Tampilkan postingan dengan label Pandanganku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandanganku. Tampilkan semua postingan

Mengapa Militer Papua disebut “Kelompok Sipil Bersenjata” ?

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat -

Sebagaimana yang dimuat pada gatra.com ada pernyataan perang yang dikeluarkan oleh kelompok sipil bersenjata di Papua. Didalam ulasan beritanya jelas diberitakan :

Goliath Tabuni mengklaim sebagai pimpinan panglima tinggi Komando Nasional, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dengan pangkat Jenderal. Ia mengaku memimpin 7 Komando Daerah Pertahanan (KODAP) di wilayah pegunungan Papua Barat.

Apa alasannya militer Papua (Tentara Pembebasan Nasional) disebut sipil bersenjata oleh media atau oleh pihak indonesia ? tentunya ada alasan yang utama sehingga mereka lebih memilih menggunakan kalimat sipil bersenjata. Itu bagi Indonesia, tetapi tidak bagi rakyat Papua yang tetap setia menuntut kedaulatan politiknya sebagai sebuah bangsa dan Negara yang merdeka. Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat adalah sayap militer dari Negara Papua. Sejarah dari lahirnya Tentara Pembebasan Nasional dapat dibaca di link ini: -ini-sejarah-berdirinya TentaraPembebasan Nasional Papua Barat

Pada masa-masa awal pencaplokan wilayah West Papua, Tentara Nasional Papua sering dicap dengan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), selain GPK, ada Separatis dll. Semua sebutan ini jelas diberikan jika dilihat dari pandangan Negara Indonesia. Tetapi bagaimana dengan pandangan Bangsa Papua? Tentu sangat berbeda. Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat adalah milik rakyat dan bangsa Papua dan selamanya akan tetap diakui oleh rakyat Papua.
Bahkan secara struktur militer sudah lengkap dengan susunan kepangkatan dan tidak asal-asalan seperti kelompok criminal dll. Militer Papua bahkan tersusun rapi sesuai daerah perang ditujuh wilayah tanah papua.

Baca: Kami siap berperang dengan indonesia

Terkait pernyataan perang yang berisi 7 poin didalamnya dari sudut pandang  sebagai masyarakat sipil, silahkan dilakukan; seperti pernyataan sebelumnya dari Gen. Goliath Tabuni, “siap memimpin revolusi tahapan menuju revolusi total”.
Mungkinkah pernyataan perang ini sebagai lanjutan dari revolusi total? Ataukah masih didalam revolusi tahapan. Bukan ranahku untuk menjawab  tetapi hanya menduga.

 Baca: Tentang Target Revolusi Tentara Papua  | Siap Perjuangkan Hak Politik

Kemerdekaan suatu bangsa bisa dicapai dengan cara-cara damai (diplomasi dll), namun bila cara damai diabaikan dan mendapatkan jalan buntu maka kekerasan (perang)pun diperlukan. Silahkan  Militer Papua vs Militer Indonesia asalkan tidak mengorbankan rakyat sipil Papua maupun rakyat sipil indonesia yang masih cari makan diatas tanah Papua.


Salam Juang | Papua Tetap Merdeka

Semoga :)

By: Phaul Heger  

Air Mata di Papua, Banjir di Jakarta (Opini)

Tanah Papua yang indah namun  penuh dengan berbagai persoalan telah hilang ribuan nyawa dari waktu ke waktu. Tangisan air mata yang tak mungkin dihapus begitu saja. Memori masa lalu dalam kebrutalan tindakan pihak asing dalam merebut wilayah masih jelas dan segar dalam ingatan.

Dalam mengambil apa yang bukan milik mereka; Namun atas nama negara mereka telah bertindak. Kaum pribumi yang dengan jiwa raga mempertahankan kedaulatan kemerdekaan wilayahnya kemudian dicap sebagai sepratis, bahkan ditembak mati.

Hutan-hutan rimba Papua menjadi tempat pelarian, bahkan banyak juga yang kemudian mengungsi dan hidup dinegara tetangga. Banyak generasi muda yang terlahir dan hidup tanpa ayah ataupun tanpa ibu, bahkan ada kemudian bertanya dimana ayahnya, keluarganya dan lain sebagainya, sesungguhnya mereka telah menjadi korban dari suatu rezim yang memaksakan wilayah yang telah dicaploknya.
Berbagai pelanggaran ini tidak membuat kami generasi ini membenci negara yang menjajah, tetapi kami bahkan terus mengingatkan kepada negara penjajah ini agar pencaplokan dan pendudukan atas wilayah kami segera dihentikan. Kebencian kami adalah ketika rakyat kami terus disiksa atas nama persatuan palsu, kami dipaksa menjadi indonesia sementara jelas dalam fakta sejarah kami telah bernegara sendiri.
Kami tahu kami tak membalas namun dalam  doa-doa, kami berharap bangsa indonesia yang besar ini dapat sadar dan memberikan kesempatan kepada bangsa dan negara papua untuk berdaulat, biarlah Tuhan yang menentukan.



Akhir tahun 2014 pada awal bulan desember kita semua dikejutkan dengan terjadinya penembakan, 5 orang siswa ditembak mati oleh aparat indonesia, puluhan lainnya luka luka.
Jika kita melihat kebelakannya ada lagi serangkaian peristiwa yang telah terjadi. Inikah wajah negara indonesia dalam membangun Papua? Mengapa kekerasan seperti dibiarkan ?
Dalam duka dari generasi ke generasi, kami terus mengeluh, kami mengeluh bukan pada bangsa indonesia tetapi pada sang pencipta yang serasa tidak adil memberikan kami tempat namun tempat kami dirampas oleh bangsa lain. Air mata duka yang kami rasakan tak akan terhapus selama bangsa asing itu masih ada.


Jakarta, ibukota negara indonesia dilanda banjir. 

Banjir merendam jalan di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (9/2)/Antara
Dari beberapa catatan dimedia online memuat ada beberapa titik yang telah tergenang, bahkan di ring satu didekat istana presiden indonesiapun telah digenangi air.

Musim hujan, mungkin saja ini musimnya, sehingga turun dengan begitu deras tanpa berhenti.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah ibukota namun rasa-rasanya sangat sulit untuk menghalau air yang menjadi momok menakutkan bagi masyarakat ibukota.
Mari kita lihat dari fenomena alam dan hubungannya dengan kehidupan umat manusia. Jakarta adalah pusat negara indonesia dimana segala kebijakan mengenai daerah daerah disetujui.
Bahkan termasuk dengan kita yang di Papua. Dari layar tv, media cetak dan media online kita dapat melihat berbagai macam ketimpangan yang terjadi, ada KKN, ada kekerasan-kekerasan, ada perbandingan kehidupan dari suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Semua kemasan pemberitaan ini menunjukan bahwa bangsa ini sudah salah jalan.
Mempertontonkan ketertinggalannya pada bangsa lain. Mengapa dikatakan bodoh, indonesia adalah negara demokrasi, sudah sepantasnya menjalankan sistem demokrasi itu dengan baik. Bukan sebaliknya demokrasi hanya label namum pelaksanaan jauh dari demokrasi.  

Segala kebijakan yang diambil ini mempengaruhi kehidupan banyak orang.
Lihat saja, tuntutan rakyat Papua, agar diberikan referendum tidak direspon, rakyat papua menuntut dialog, tidak direspon bahkan rakyat Papua menggelar kongres dan mendeklarasikan pemulihan kemerdekaannya, masih tidak direspon malah dihancurkan semua itu dengan label separatis, makar dan lain sebagainya. Solusi diberikan otonomi khusus yang entah dimana kekhsususannya itu. 

Banjir di Jalan Budimulya Raya, Pademangan Barat, Jakarta Utara, Selasa (10/2/2015). Curah hujan tinggi serta drainase yang buruk membuat sejumlah tempat di Jakarta terendam banjir. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Dampak dari semua itulah yang menurut saya telah menjadi suatu kenyataan ketika di timur khususnya di Papua terjadi kekerasan dari tahun ke tahun, membuat kesedihan berkepanjangan, air mata mewakili hati yang remuk, tak ada kata lagi yang keluar, kami tegar namun tetap mengenang dan menangisi kepergian rekan-rekan seperjuangan.
Sementara dijakarta, rakyat ibukota harus mengungsi karena rumah mereka terendam air, air mata di timur, namun dibarat air hujan. Alam membalas setiap kebijakan yang tak tepat.

(Hanya sebuah catatan untuk kita renungkan)

Inisiatif Kemlu RI Bentuk Pokja Tidak Tepat (Opini)

Melihat pada isu Papua Merdeka yang semakin mendunia, sejauh ini Indonesia masih menganggap isu tersebut tidaklah sesuai fakta. Padahal sangat jelas, gerakan tuntutan kemerdekaan Papua bukan diluar negeri, tetapi ada didalam negeri yaitu di Papua, bahkan dari tingkat ibukota propinsi sampai tingkat kampung.

Sejalan dengan tuntutan tersebut, harusnya perhatian pemerintah pusat kepada apa yang diinginkan dan diharapkan oleh rakyat Papua. Bukan semata-mata membentuk pokja yang nantinya mengcounter setiap opini dan berbagai isu papua. Justru disinilah letak ketidak tepatan yang terjadi. Kami merasa bahwa hak kami dalam menuntut pada pemerintah semakin dikekang.
Persoalan dasar dari pada sejarah kelam masa lalu merupakan sebuah permasalahan yang sesegera mungkin ditindaklanjuti, pendekatan kepada rakyat Papua bukan dengan militer dan dalih persatuan semata tetapi lebih kepada keinginan luhur yang tulus dalam membangun persatuan berbangsa.
Jika Papua itu bagian tak terpisahkan dari Indonesia, sudah sepantasnya Indonesia memahami, mendengar dan menyelesaikan apa yang menjadi tuntutan rakyat Papua.

Dikutip dari laman news.liputan6.com ; Pokja inisiatif Kemlu ini, lanjut Djumala, sangatlah penting. Sebab Kemlu sudah saatnya mempunyai pokja yang menyaring, menyalurkan, mendiseminasi informasi.

"Tugas utamanya adalah melakukan manajemen informasi di dalam isu-isu terkait Papua," ujar Darmansjah.

Bukan cuma Pokja, soal maraknya pergerakan kelompok separatisme Papua yang mencari dukungan di luar negeri, Kemlu juga sudah punya resep penangkalnya.
"Caranya, dan ini bukan cara baru, adalah mengadakan engangemet (pendekatan). Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang menarik jarak," sambung dia.

"Engagement kepada siapa? Kepada semua instrumen yang bisa menyebarkan informasi, kepada kelompok-kelompok yang bisa membentuk opini, kepada media, politisi dan bahkan kepada kelompok yang menamakan dirinya sebagai perwakilan separatis," beber Darmansjah.

Ditambahkannya, terobosan-terobosan tersebut nantinya pengaplikasiannya akan transparan. Sebab, saat sekarang adalah era keterbukaan, era globalisasi.

"Kita tidak bisa lagi menjaga jarak, harus engangement. Kita harus melakukan strategi seperti itu," pungkas Darmansjah. (Tnt/Ein)

Jadi menurut saya tidaklah penting dan tidak tepat kemlu bentuk pokja, jelas ini era keterbukaan, mari kita secara terbuka, bertanya pada rakyat Papua, jangan terus menyebut kelompok separatis, sementara jelas bagi bagi kami rakyat papua kalian juga perampas hak-hak kemerdekaan kami rakyat bangsa Papua.
Indonesia harus membuka diri untuk mencari solusi terbaik, bahkan seperti yang telah diusulkan oleh rakyat papua dalam berbagai aksi dari tahun ke tahun, segera buka ruang demokrasi, ruang perundingan ataupun segera gelar referendum, biarkan rakyat yang menentukan memilih mana.

Jika niat Indonesia baik, sudah pasti papua tetap bagian dari Indonesia, tetapi jika melihat dari perkembangan sejauh ini, apalagi pelanggaran yang terus-menerus, sudah pasti pilihannya Papua merdeka.(PH)

Spanduk tuntutan rakyat Papua. Photo by Bob.J.T

Antara NFRPB dan NKRI

Negara Federal Republik Papua Barat berkedudukan di Papua Barat yang saat ini masih diduduki oleh Negara Indonesia. Negara Federal Republik Papua Barat adalah hasil dari Kongres Rakyat Papua III yang digelar pada bulan Oktober 2011. Forum tertinggi keputusan rakyat ada pada kongres. Kongres pertama digelar pada 1960an yang mana telah menghasilkan nama negara beserta perangkatnya. Kongres kedua pada tahun 2000 dimana Theys Eluay dipilih menjadi ketua Presidium Dewan Papua. Namun kebrutalan pihak penjajah yang merasa takut dengan kemajuan perkembangan tuntutan Papua Merdeka telah membunuh sang pemimpin. Barulah pada 2011 dilaksanakan kongres ketiga. Negara Papua yang telah menyatakan atribut negaranya kemudian memproklamasikan kemerdekaan sepihak pada 1 Juli 1971 akhirnya dipulihkan pada 19 Oktober 2011 di Port Numbay; ibukota negara Papua Barat.

Kongres Rakyat Papua III. 2011
Pada Kongres inilah Bapak Forkorus Yaboisembut dipilih menjadi Presiden dan Edison Waromi sebagai Perdana Menteri. Atas sikap berani dan tindakan yang diambil ini, kedua tokoh ini bersama beberapa anggota panitia harus mendekam dipenjara indonesia karena dianggap makar oleh sipenjajah. Kini para pemimpin yang berani ini telah bebas dari penjara kolonial dan terus memperjuangkan hak kedaulatan sebagai negara yang merdeka.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beribukota Jakarta, saat ini dipimpin presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai wapresnya. Masih mengklaim dan menjadikan Papua sebagai hargamatinya indonesia. Papua tetap dipertahankan dengan segala daya dan upaya, bahkan dana besar digelontorkan untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Papua.

Persoalan mendasar yang menjadi tuntutan utama rakyat Papua Barat adalah MERDEKA, namun masih dianggap oleh indonesia sebagai persoalan kesejahteraan. Yah pada akhirnya banyak warga kota diibukota yang masih hidup dipinggiran toko, banyak pengemis yang berkeliaran dimonas, dan masih banyak rakyat indonesia yang butuh bantuan dana dari pusat. Alangkah baik jika mereka ini diperhatikan oleh negara daripada negara membuang uang hanya untuk mempertahankan sebuah wilayah yang jelas- jelas menuntut merdeka.
Pengemis_Musiman (Tribun)

Sangat-sangat tidak bijak menurut hemat saya, alangkah baiknya pemerintah indonesia membuka ruang bagi rakyat Papua Barat sesuai tuntutannya, jangan terlalu takut bahwa Papua akan merdeka dan indonesia akan seperti ini atau itu, alangkah baiknya indonesia belajar dari keberhasilan Inggris dan Scotlandia. Dalam referendum yang diberikan malah mayoritas masih memilih untuk tetap bergabung dengan Inggris.


Sama halnya dengan Papua, kebijakan pemerintah indonesia yang terlalu mengekang hak setiap warga negara di Papua untuk sampaikan keinginannya maka akan semakin menimbulkan kebencian dan rasa tidak memiliki kepada indonesia, yang ada malah rasa asing terhadap indonesia.
Indonesia melalui Presiden pertamanya, Ir Soekarno telah mengakui adanya Negara Papua walau ditambahkan lagi dengan kata boneka, lengkapnya negara boneka papua. Timbul pertanyaan apakah yang membuat negara itu orang lain, yang bukan punya hak ditanah papua, justru mereka yang membentuk negara ini punya hak sepenuhnya atas tanah mereka, klaim soekarno salah alamat dan salah sasaran. Namun kenyataan beliau berhasil, indonesia akhirnya menguasai tanah Papua hingga kini.
Antara NKRI dan NFRPB
Sampai kapan niat baik dalam memperjuangkan hak kedaulatan Negara Papua direspon dengan bijak oleh pemerintah indonesia?
Semoga...

Menuju Sebuah Persatuan (Opini)

Akhir-akhir ini kita banyak menyimak  dan melihat berbagai peristiwa yang terjadi didaerah, baik komunikasi dengan keluarga, rekan seperjuangan maupun di media massa, cetak maupun di media-media online, termuat berita-berita tentang pergerakan perjuangan Papua dalam bentuk aksi-aksi damai. Aksi-aksi ini tidak hanya di satu titik kota saja tetapi sudah hampir disemua wilayah di Papua.  Pergerakan yang terjadi didalam masyarakat papua ini bukan asal-asalan atau karena dibuat-buat oleh segelintir orang. Tetapi ini adalah suatu hal yang benar-benar lahir dari kesadaran sebagai sebuah bangsa yang punya hak untuk merdeka dan berdaulat diatas tanah airnya sendiri.

Tentunya kita semua tahu bahwa hingga saat ini  wilayah papua masih bagian dari wilayah Negara Indonesia. Bagian dari Negara Indonesia karena system dan tata pemerintahan yang masih bercokol diatas tanah papua. Namun sudah sangat jelas bahwa keinginan luhur dari rakyat bangsa papua adalah berdaulat diatas tanahnya sendiri. Bahkan oleh Komite Nasional Papua Barat telah menyatakan bahwa Indonesia dipapua adalah illegal.

Selain itu sudah ada pemerintahan yang dibentuk sesuai dengan hasil dari deklarasi pada kongres rakyat papua III. Yang telah memulihkan kemerdekaan yang telah dideklarasikan pada 1 desember yang kemudian di lanjutkan dengan proklamasi kemerdekaan papua pada 1 juli 1971, sepuluh tahun kemudian. Pemerintahan pada kabinet Zeth Rumkorem yang kemudian harus keluar dari tanah airnya karena dikejar oleh pihak militer Indonesia pada saat itu.

Rentangan waktu yang panjang dalam proses menuju sebuah Negara yang merdeka bebas dan terlepas dari berbagai bentuk penjajahan pihak asing, itu yang diharapkan. Bangsa-bangsa diatas muka bumi memiliki hak yang sama untuk merdeka. Demikian pula bangsa papua memiliki hak yang sama untuk merdeka.

Indonesia mengklaim papua karena papua adalah bekas jajahan hindia belanda, sedangkan dalam pandangan bangsa papua terlepas dari sudut pandang Indonesia. Indonesia dan belanda tidak memiliki hak untuk masuk dan menduduki wilayah papua. Menurut bangsa Papua, Ini tanah kami, ini pulau kami, ini wilayah kami, yang punya hak untuk mendirikan Negara kami, berhak untuk menuju cita-cita sebagai bangsa yang berdaulat, kalian jangan datang mengklaim kami sebagai bagian dari kesatuan palsu kalian.

Kembali ke judul  tulisan diatas bagaimana menuju sebuah persatuan yang lebih kuat dikalangan kaum pergerakan yang berjuang menuntut kemerdekaan bagi bangsa papua? Tentunya ini semua tidak terlepas dari peran berbagai kepentingan yang terus inginkan penjajahan berlanjut.  Disaat intensitas perjuangan yang makin naik selalu saja ada yang menghalangi. Pasti saja ada kelompok yang mengklaim menolak ini dan itu. Seperi contoh pada saat deklarasi pemulihan kemerdekaan dimana ada beberapa kelompok yang kemudian menolak hasil dari pada kongres tersebut. 

Menuju sebuah persatuan, apakah persatuan yang dimaksud adalah dengan membaurkan, meleburkan semua organ perjuangan kemudian membentuk satu lagi organ gerakan perjuangan ? tentu tidak harus seperti itu. Perjuangan yang terus berlanjut harus tetap berlanjut dengan ritme dan alunan masing-masing organ sesuai dengan arahnya. Tujuan dari semua adalah bagaimana memerdekaan bangsa papua.  Maka sebaiknya jika berbicara soal persatuan lihat dahulu maksud dari cara bersatu itu seperti apa. Bukan asal katakan “kita harus bersatu”.

Persatuan disini  jika menurut saya adalah bagaimana koordinasi yang belum terjalin dengan baik dapat dibangun lagi. Berbagi peran dalam perjuangan, siapa urus yang ini atau hal ini diurus siapa, organ mana dan siapa yang bagian urus yang ini. Mana yang berperan untuk menguatkan basis, mana yang berperan untuk kelengkapan atribut, mana yang berperan dalam diplomasi, mana yang berperan dalam kampanye-kampanye dan gerakan-gerakan perdamaian. Dan juga dibagian dasar untuk satu pergerakan bersama. Persatuan yang didasarkan atau dibangun dari tugas dan area kerja masing masing.

Ibarat sebuah pohon yang tumbuh, akar yang tertanam dengan baik, batang yang kuat sehingga dapat menahan ranting-ranting dengan dedaunan dibagian ujungnya. Pohon itu tidak bertumbuh dengan akar sendiri atau daun-daunnya sendiri demikian rantingnya sendiri tetapi akan menjadi satu kesatuan sebagai pohon yang kuat, yang dapat bertahan dari terpaan badai, angin, panas mentari dan berbagai fenomena alam lainnya.

Mari kita simak secara singkat bagaimana kemerdekaan Negara Indonesia dapat berjalan dengan baik pada era masa kemerdekaan mereka. Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat itu tidak serta merta mereka langsung terbebas. Wilayah-wilayah lain masih diduduki; Pernyataan kemerdekaan sudah tetapi peran dan kelangsungan penjajah diatas Indonesia masih berlanjut. Kesadaran akan perlu adanya sebuah persatuan membuat mereka yang tadi terpecah belah kemudian harus membangun persatuan. Dengan berbagai peran masing-masing. Bukan waktu yang singkat karena empat tahun kemudian  barulah kemerdekaan Indonesia itu diakui oleh Negara Belanda.

Maka tekait dengan perjuangan kita menuju kemerdekaan sejati, perlu adanya kesadaran bersama dan peran masing-masing dalam ruang pergerakan perjuangan kemerdekaan itu. Kita tidak lagi saling mencibir, saling menyalahkan apa yang sudah kita lewati, apa yang sudah terjadi. Sudah saatnya kia melihat peluang kita  sebelum apa yang kita cita-citakan menjadi pudar, karena terasa lama dan hanya membuat kita mati seakan jalan ditempat. Kita sadari kekuatan persatuan yang kita bangun adalah dengan dasar saling percaya, saling mendukung, saling melengkapi sehingga apa yang ingin kita capai akan tercapai dalam waktu yang singkat.

Marilah kita sadari bersama sudah lima puluh satu (51) tahun  sejak deklarasi niat pada 1 desember 1961 yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan proklamasi di markas Viktoria sepuluh tahun kemudian, yang kemudian berlanjut dengan pemerintahan darurat yang berjuang baik di dalam maupun luar negeri, bahkan dengan kantor-kantor Negara papua yang dibuka di berbagai belahan dunia. Namun pergerakan didalam negeri mengalami tekanan yang luarbiasa beringasnya sehingga seakan mati suri pada masa orde baru, rezim dictator Soeharto berkuasa. Setelah 40 tahun kemudian barulah pemulihan kemerdekaan itu terlaksana pada kongres ke-3 dibulan oktober 2011.


Tuntutan rakyat Papua adalah PBB dan indonesia untuk segera mengakui kemerdekaan Negara Papua, jika indonesia masih ragu-ragu dalam mengakui maka silahkan berikan Referendum, Biar lebih jelas rakyat Papua akan memilih mana, akankah seperti PEPERA 1969 atau sebaliknya, rakyat Papua akan memilih merdeka. 

Melihat dari berbagai hal yang berkembang saat ini, maka melalui tulisan singkat ini semoga ada kesadaran bersama, untuk tujuan bersama merebut kemerdekaan, menuju pembebasan nasional yang kita harapkan dan perjuangkan bersama; jadi apa yang sudah terjadi kemarin sebagai suatu pembelajaran yang kita ambil positifnya dalam perjuangan sedangkan hal-hal yang masih kita anggap kurang, mari kita benahi bersama.

Persatuan adalah kekuatan kita, koordinasi dan kerjasama dapat berjalan seirama dengan saling percaya, sehingga tujuan akhir dapat kita capai dalam waktu yang tidak lama alias singkat.



Semua Harus Bersuara Untuk Papua Merdeka


Jika seluruh elemen masyarakat Papua baik yang ada di dalam tanah air Papua maupun yang diluar Papua, bapa, mama, kaka, adik, pegawai, petani, nelayan, ibu rumah tangga, mahasiswa, mahasiswa dan kaum pelajar hingga semuanya ambil bagian mendukung  dan terlibat didalam persatuan maka kemerdekaan Bangsa Papua itu sudah tercapai, kolonial akan dengan terpaksa mengakui kemerdekaan bangsa Papua, akan tetapi jika didalam pergerakan perjuangan hanya satu dan dua orang saja maka sama saja dengan memperhambat proses mencapai kemerdekaan itu.  

Papua sudah merdeka, semua yang hidup di masa ini bertanggung jawab untuk berjuang bersama agar colonial segera mengakui dan keluar dari Tanah Air Bangsa Papua. 


 Untuk kawan-kawan mahasiswa yang masih mengganggap perjuangan ini terasa sia-sia, stop meggunakan ilmu-ilmu perbandingan yang kau dapatkan, mari bergabung diberbagai elemen gerakan, ayo sama-sama bergerak kampanyekan kemerdekaan bangsa Papua. Karena di pundak generasi hari ini terletak tanggung jawab untuk  menentukan masa depan Bangsa Papua di generasi selanjutnya. 

 Jangan sampai generasi yang akan datang hanya melihat dan menyaksikan alam yang rusak sana-sini, mengalami sisa-sisa kehancuran tanah papua karena hasil-hasil buminya yang dikeruk dengan rakus oleh sang kapitalis.

Kalo ko rasa ko orang Papua, ko bangsa Papua, buang jauh-jauh pemikiran yang lain-lain, mari suarakan Suara Hati Bangsa Papua Untuk Menuju Pembebasan Nasional Bangsa Papua. (PH)

Kolonial hanya menginginkan tanah dan hasil-hasil diatas tanah itu, dia tidak membutuhkan orang-orang yang ada diatas tanah itu. Orang Papua tidak dibutuhkan, hanya alam dan tanahnya saja yang dibutuhkan. 

Bukti pernyataan dari kolonial :



"Papua penduduknya primitif, belum beradab, bodoh dan terbelakang". Demikian kata Ali Murtopo;
"Kita (Indonesia) hanya menginginkan harta kekayaannya saja, bukan penduduknya".

__________________
Post By Phaul Heger