Tampilkan postingan dengan label Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Natal. Tampilkan semua postingan

Pesan Perdamaian Jokowi dari Papua: Akhiri Konflik dan Kekerasan

"Kita ingin akhiri konflik. Jangan ada lagi kekerasan. Mari kita bersatu . Yang masih ada di dalam hutan, yang masih berada di atas gunung-gunung, marilah kita bersama-sama membangun Papua sebagai tanah yang damai. Mari kita pelihara saling rasa percaya di antara kita sehingga kita bisa berbicara dengan suasana yang damai dan sejuk...," demikian pesan Presiden

Sabtu malam, 27 Desember 2014 puluhan ribuan warga memadati Stadion Mandala, Jayapura, menghadiri puncak perayaan Natal Nasional yang dihadiri Presiden Joko Widodo bersama keluarga dan sejumlah Menteri.
Sungguh amat disayang, karena jadwal cuti saya tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama di Papua, maka hanya acara persiapannya saja yang bisa saya saksikan. Tak bisa menyaksikan secara langsung tak berarti tidak bisa berbagi. Karena mediamainstream maupun lokal telah menyuguhkan banyak hal dari perayaan puncak tersebut. Saya coba merangkumnya untuk Kompasianer tercinta, semoga bermanfaat.
Hal yang paling ditunggu oleh Bangsa Indonesia adalah isi pidato Bapak Presiden Joko Widodo dari Tanah Papua. Dengan mengenakan hiasan kepala khas Papua, Presiden Jokowi memasuki Stadion Mandala disambut tepuk tangan serta sorakan riuh puluhan ribu undangan dan warga Jayapura yang sejak sore hari sudah datang ke stadion sepak bola milik Persipura itu.
Acara berlanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh paduan suara, kemudian laporan ketua umum  panitia Natal Nasional 2014, Menteri PPA Yohana S. Yembise. Kemudian prosesi penyalaan lilin Natal oleh Ketua Panitia dan Narasi Natal oleh Uskup Jayapura Mgr. Leo Labalajar, OFM. Setelah itu Presiden Jokowi memberikan sambutan.

Akhiri konflik dan kekerasan

Presiden juga menyerukan perdamaian bagi Tanah Papua. Ia meminta semua pihak mengakhiri konflik dan menghentikan kekerasan. Bahkan, Presiden meminta semua pihak bersatu untuk membangun Tanah Papua yang damai serta memelihara rasa saling percaya.


Sumber: Foto: liputan6.com


"Kita ingin akhiri konflik. Jangan ada lagi kekerasan. Mari kita . Yang masih ada di dalam hutan, yang masih berada di atas gunung-gunung, marilah kita bersama-sama membangun Papua sebagai tanah yang damai. Mari kita pelihara saling rasa percaya di antara kita sehingga kita bisa berbicara dengan suasana yang damai dan sejuk karena dengan cara itulah Natal akan membawa kabar baik bagi kita semua," kata Presiden yang disambut tepuk rangan dari umat yang memenuhi stadion.

Presiden juga menegaskan bahwa kedatangannya ke Papua semata-mata ingin menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk mendengarkan suara rakyat. Bagi Presiden, semangat untuk mendengar dan berdialog dengan hati itulah yang ingin digunakan sebagai fondasi membangun Tanah Papua.

"Karena saya melihat rakyat Papua tidak hanya membutuhkan layanan kesehatan. Tidak hanya membutuhkan layanan pendidikan. Tidak hanya membutuhkan pembangunan jalan, jembatan, dan pelabuhan saja. Namun, rakyat Papua juga butuh didengarkan, diajak bicara. Itulah sikap dasar saya dalam membicarakan setiap persoalan yang ada di Papua," papar Presiden.

Mengapa di Papua

Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan kembali cerita mengapa puncak Perayaan Natal Nasional 2014 dirayakan di Bumi Cendrawasih. Saat itu Jokowi bertemu dengan Menteri PPA  Yohana Yembise‎.

"Bu Menteri, nanti perayaan Natal untuk Nasional, saya ingin di Papua. Kira-kira siap tidak?" tanya Jokowi saat itu.

Menteri Yohana yang kebetulan berasal dari Papua meminta waktu untuk berkordinasi dengan Para Gubernur di Papua. Gubernur Papua yang dikontak pun menyatakan kesiapannya menggelar perhelatan akbar itu.

"Langsung saya perintahkan, langsung pindahkan dari Jakarta ke Jayapura," kisah Jokowi disambut sorak sorai dan tepuk tangan masyarakat Papua.
Sumber: Foto:www.tempo.co


Sebelum menghadiri peringatan Natal Nasional, Jokowi melakukan sejumlah kegiatan di Jayapura. Antara lain mengunjungi Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura, serta bertemu para relawan yang membantunya saat pemilihan presiden lalu.

Presiden dijadwalkan selama tiga hari sejak 27 Desember 2014 berada di Papua. Jokowi akan mengunjungi sejumlah kota di Papua. Selain Jayapura, Jokowi juga akan berkunjung ke Wamena, Biak, dan Sorong. [*]

Dirangkum dari berbagai sumber

Catatan Kompasiana Veronika

Kapolda Papua: Jika AdaPengerahan Massa saatKedatangan Jokowi, Kami TindakTegas

Jokowi Bertolak ke Papua  Rayakan Natal Nasional 2014.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana bertolak
dari Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Papua, Sabtu (27/12/2014) sekitar pukul 07.35 WIB.
Jokowi didampingi Ibu Negara yang memakai kemeja merah berpadu hitam tiba di Halim Perdanakusuma sekitar pukul 07.15 WIB. Jokowi mengenakan kemeja "khasnya" putih lengan panjang.
Terlihat pula, putri semata wayang Jokowi, Kahiyang Ayu dan putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Kahiyang mengenakan baju batik putih, sedangkan Kaesang memakai baju kemeja putih.
Jokowi dan rombongan terbang ke Papua dengan pesawat kepresidenan Boeing seri 737-800 BBJ II.
Selain Jokowi, turut mendampingi Presiden sejumlah anggota Kabinet Kerja. Pantauan Tribunnews.com , menteri yang ikut Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, dan Sekretaris Kabinet Andi Wijayanto.
Jokowi akan menghadiri perayaan Natal Nasional 2014 di Jayapura, Papua. Menurut Sekretaris Daerah Papua Heri Dosinaen, Selasa (23/12/2014), sejumlah menteri sudah melakukan rapat koordinasi dengan unsur pimpinan di Papua terkait dengan kedatangan Jokowi. Menurut Heri, selain Jokowi dan anggota  kabinetnya, ada 400 ribu undangan yang akan hadir di Stadion Mandala Jayapura. Setelah acara Natal 27 Desember2014, Jokowi akan mengunjungi tiga kota di Papua dan Papua Barat. Pada 28 Desember 2014, Jokowi mengunjungi Jayapura dan keesokan harinya, akan melanjutkan ke Wamena di Kabupaten Jayawijaya. Rencananya Jokowi akan mengakhiri kunjungan di Kota Sorong, Papua Barat, 29 Desember 2014.
Selain itu, kata Heri, Jokowi akan menghadiri pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat di Kampus Universitas Cenderawasih, setelah itu dijadwalkan melakukan pertemuan dengan relawan di Gedung Olahraga Waringin Kotaraja.
 Di Jayapura, Jokowi akan mengunjungi proyek pembangunan Jembatan Holtekamp dan beberapa pasar tradisional.
Heri berharap Natal Nasional pertama kali di Papua dapat menumbuhkan gerakan baru untuk memperbaiki wilayahnya. Selain itu, dia meminta pemerintah pusat untuk melihat kondisi riil di Papua, yang selama ini tertutup dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. "Kami berharap ada perhatian lebih dalam pembangunan di Papua," ujarnya.


Kapolda Papua: Jika Ada Pengerahan Massa saat Kedatangan Jokowi, Kami TindakTegas

JAYAPURA - Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Yotje Mende, menegaskan akan menindak tegas jika ada pengerahan massa yang akan menghambat kunjungan Presiden Joko Widodo di Papua, hari
ini, Sabtu (27/12/2014) hingga Minggu (28/12/2014).
Mende mengatakan, hingga batas waktu yang ditentukan menurut Undang-Undang, tidak ada pihak yang menyampaikan izin untuk menggelar aksi massa. 
"Jika ada yang melakukan pengerahan massa saat kedatangan presiden, pasti kami tindak tegas. Karena melanggar Undang-Undang," ucap Mende usai menghadiri pembukaan Pameran Alusista di halaman Kantor Gubernur Papua, Jumat (26/12/2014).
Diungkapkan Mende, jika sepekan sebelumnya ada pihak yang mengajukan izin melakukan aksi massa, mungkin pihaknya akan memberikan ruang. Namun ia meminta agar semua pihak untuk sama-sama menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo dan rombongan yang akan merayakan Natal Nasional di Jayapura, Sabtu (27/12/2014).
Mende pun berharap, ada mobilisasi massa dalam makna positif, untuk menghadiri perayaan Natal Nasional yang digelar di Stadion Mandala Jayapura, mulai pukul 15.00 WIT.
"Marilah kita bersama-sama untuk merayakan Natal bersama dengan Presiden kita," kata Mende.
Mengenai pengamanan, Mende mengaku sudah berkoordinasi dengan TNI dan pemerintah setempat untuk menyukseskan rangkaian kunjungan Presiden di Papua. Menurutnya, kepolisian akan fokus untuk mengamankan rute perjalanan Presiden dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, menuju Kota Jayapura .
Dalam gelar pasukan di Makodam XVII Cenderawasih, Rabu (24/12/2014), Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan mengatakan, pengamanan di Jayapura dan sekitarnya akan melibatkan 5.200 personel TNI- Polri.
 Kunjungan dua hari Presiden Jokowi di Papua dan Papua Barat, rencananya akan menghadiri perayaan Natal Nasional di Kota Jayapura. Selain itu Jokowi juga akan berdialog dengan masyarakat Adat di Wamena, Kabupaten Jayawijaya dan berkunjung ke Kota Sorong, Papua Barat.

Menanti Kado Natal Jokowi untuk Rakyat Papua

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo akan menghadiri perayaan Hari Natal bersama di
Provinsi Papua pada 27-28 Desember mendatang. Kunjungan dan perayaan saja dinilai belum cukup
bagi rakyat Papua. Romo Franz Magnis Suseno mengatakan, harus ada kado istimewa dari Jokowi, berupa langkah penyelesaian konflik berdarah yang kerap kali terjadi di tanah Papua. Kasus terakhir, bentrok antara gabungan aparat TNI-Polri dengan warga, pada 8 Desember 2014 lalu. Lima orang tewas dan sekitar dua puluh orang lainnya mengalami
luka-luka akibat insiden ini.
 "Menghadiri perayan Natal tidak bermanfaat kalau Jokowi tidak mau mengambil sikap atas pembunuhan yang terjadi di Paniai," kata Romo Magnis, Rabu (24/12/2014).
Menurut dia, hal yang paling dibutuhkan oleh rakyat Papua saat ini bukan lah kunjungan atau perayaan, melainkan keamanan. Konflik yang masih terjadi hingga saat ini, kata dia, menunjukkan bahwa rakyat Papua belum bisa merasa aman.
"Dengan Jokowi hanya ikut merayakan Natal di sana, kondisi ini tidak akan berubah," ujar Franz yang membuat surat untuk Jokowi terkait masalah ini di Harian The Jakarta Post. Ia berharap pemerintah tidak hanya mengupayakan penyelidikan, namun juga mengadakan penelitian. Pemerintah harus mencari tahu penyebab konflik di papua terus
menerus terulang.
"Kalau sudah diketahui penyebabnya, bisa diantisipasi," ujar pakar Etika Politik dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.
 Tim pencari fakta
Tim atau Komisi Khusus Komisioner Komnas HAM Hafidz Abbaz meminta Jokowi membentuk tim khusus yang bersifat independen. Hafidz mengatakan, kasus ini tidak akan pernah tuntas jika diusut oleh aparat karena penembakan justru melibatkan aparat TNI-Polri.
 "Kami harapkan presiden membentuk tim pencari fakta dan diungkap secara utuh apa yang terjadi di balik tragedi ini," ujar Abbaz.
Aliansi masyarakat sipil yang tergabung dalam #PapuaItuKita menilai, tim pencari fakta juga tidak cukup. Mereka meminta Jokowi membentuk Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM (KPP HAM). KPP HAM ini dinilai sebagai mekanisme penyelidikan paling kredibel dan paling memungkinkan untuk memenuhi rasa keadilan bagi korban, ketika para pelaku kejahatan HAM melibatkan aparat TNI dan Polri. "Kita mendorong Presiden Jokowi membentuk KKP HAM sebagai sebuah tim yang netral dan tidak mempunyai kepentingan untuk menyelidik tragedi ini," kata salah satu inisiator #PapuaItuKita Marhen Goo.
Jangan kecewakan Papua Franz Magnis menambahkan, awalnya dia cukup simpatik terhadap Jokowi karena saat kampanye Pilpres 2014 sangat memerhatikan rakyat di Papua. Tak ayal, Papua pun menjadi salah satu basis pendukung Jokowi bersama pasangannya Jusuf Kalla. Dia meminta Jokowi menepati janji- janjinya yang telah diberikan kepada rakyat Papua agar mereka tak merasa kecewa. "Hampir 90 persen rakyat Papua itu memilih Jokowi, harusnya jangan dikecewakan mereka," ujar dia.
Jika setelah duduk di kursi RI-1, Jokowi bersikap tak peduli kepada rakyat Papua yang telah mendukungnya, ia menilai, Jokowi tidak jauh berbeda dari pemimpin kebanyakan. Kepedulian Jokowi kepada Papua selama kampanye, hanya bertujuan untuk memenangkan pilpres.
"Masih ada waktu bagi Jokowi untuk melakukan sesuatu untuk Papua. Kita yakin pemerintah dan aparat masih punya hati. Mereka harus berbuat sesuatu," ujarnya.

Penulis: Ihsanuddin
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: kompas

Tokoh Adat Se-Tanah Tabi Dukung Dan Menanti Kedatangan Presiden Jokowi

Tokoh Adat Se-Tanah Tabi Dukung Dan Menanti Kedatangan Presiden Jokowi

Tokoh Adat Se-Tanah Tabi Dukung Dan Menanti Kedatangan Presiden Jokowi “YANG TOLAK, ITU HAMBA TUHAN YANG TRA’ TAU ADAT


Ramses Ohee. (Foto : Amri/SP)
Ramses Ohee. (Foto : Amri/SP)
Sebanyak dua ratusan tokoh adat, tokoh pemuda, dan perempuan se- Tanah Tabi yang meliputi Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo dan Kota Jayapura, dalam pertemuan yang digelar di Aula Kantor Bupati Jayapura di Gunung Merah Sentani, Jumat (19/12/2014) kemarin sepakat untuk mendukung dan menantikan kedatangan Presiden RI Joko Widodo yang hendak merayakan Natal bersama masyarakat Papua pada 27 Desember mendatang.
“itu tamu yang mau datang, kita sebagai anak adat, tahu tata krama dan etika adat – istiadat, bagaimana menjamu tamu, sangat di sayangkan kalau ada Hamba Tuhan yang menolak kedatangan Presiden ke tanah ini, yang tolak itu kalau dia Hamba Tuhan, itu Hambat Tuhan yang tra’ tahu adat”, kata Frans Alberth Joku, salah satu tokoh adat yang hadir kemarin dalam pertemuan yang berlangsung sore hingga malam itu.
Pertemuan dan ramah tamah tokoh adat se- Tanah Tabi itu dilaksanakan menyikapi suara – suara sumbang yang menolak kunjungan Presiden Jokowi ke Papua dan juga membicarakan isu – isu lainnya terkait eksistensi dan kepentingan masyarakat adat di Tanah Tabi ke depan.
Tampil sebagai moderator adalah Bupati Kabupaten Jayapura, Mathias Awaitouw, sedangkan beberapa tokoh adat yang hadir diantaranya Ramses Ohee, Herman AT Yoku dari Dewan Adat Keerom, Sekretaris Dewan Adat Port Numbay, anggota MRP perwakilan Tanah Tabi, Demas Tokoro.

Yusak Andato. (Foto : Amri/SP)
Yusak Andato. (Foto : Amri/SP)
Terlihat juga beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jayapura diantaranya Waket II DPRD, Korneles Yanuaring, dan seorang anggotanya, dari DPRD Kota terlihat Mukri Hamadi dan Silas Youwedan sekitar 200-an Ondoafi se- Tanah Tabi.
“Jokowi itu Presiden, dia berhak datangi seluruh wilayah NKRI, justru dengan kedatangan Presiden kemari, dia bisa lihat dan dengar langsung apa yang menjadi uneg – uneg rakyat Papua, jadi harusnya kita memanfaatkan moment ini untuk bicara dari hati ke hati, bukannya melakukan penolakan”, kata Ramses Ohee, salah satu tokoh adat dari Tabi dan juga Ketua Barisan Merah Putih (BMP) RI.
Menurutnya sebagai seorang Kepala Negara, Jokowi punya hak untuk melihat seluruh negara ini, karena dari Sabang – Merauke adalah rumahnya.
“dia harus lihat keadaan rumahnya, apakah sudah beres atau tidak, jadi bukan sekedar kebetulan untuk merayakan Natal, dengan datang ke Papua ia bisa melihat dan matanya terbuka melihat kondisi rakyat di Papua ini, kami akan siapkan seluruh masyarakat adat ini untuk bersama – sama menyambut kedatangan Jokowi ke Papua”, kata Ramses lagi.

Frans Alberth joku. (Foto : Amri/SP)
Frans Alberth joku. (Foto : Amri/SP)
Ramses memberi perumpamaan, Presiden ibaratnya seorang Dokter, dia harus melihat kondisi kita dan mencari informasi sebanyak – banyaknya tentang apa penyakit yang kita derita ini, bagaimana riwayat penyakitnya.
“sehingga setelah kembali ke Jakarta dia akan pikirkan agar tidak terjadi lagi penyakit – penyakit seperti yang terjadi kemarin di Paniai juga, jadi sebagai dokter dia bisa mengobati dengan tepat, kita memang ikut berduka, dan prihatin, tapi kita harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya”, kata Ramses lagi.
Ketua Dewan Adat Keerom, Herman AT. Yoku juga sangat menyayangkan adanya penolakan dari sejumlah Pendeta yang nota bene adalah gembala umat.
“saya minta kepada para Gembala, dan pemimpin umat di setiap dominasi gereja yang ada di Tanah Papua, jangan membawa tendensi politik ke dalam umat dan memprovokasi umat, bawalah umat ke jalan yang baik, jangan mencampurinya dengan politik”, kata Herman Yoku.
Menurutnya antara adat dan agama sama, adat tidak pernah melarang orang untuk datang, demikian juga di dalam agama, tidak pernah kita di ajarkan untuk menolak seseorang, apalagi tamu dan pemimpin kita.

Herman AT. Yoku. (Foto : Amri/SP)
Herman AT. Yoku. (Foto : Amri/SP)
“soal dia salah atau benar, bertanggung jawab atau tidak atas insiden di Paniai, itu ada mekanismenya, karena tidak ada ajaran agama yang mengajarkan kita untuk melarang orang untuk bertamu atau mendatangi suatu tempat”
Untuk itu Herman AT Yoku mewakili masyarakat adat se- Tanah Tabi dari Kabupaten Keerom menyatakan siap mendukung dan menyambut kedatangan Presiden RI, Joko Widodo yang tinggal sepekan lagi.
“sikap kami dari perbatasan Keerom dukung kedatangan beliau, kedatangan Presiden ke Papua merupakan suatu kehormatan bagi kami masyarakat adat Tabi”, kata Herman Yoku.
Salah satu tokoh pemuda dari Tanah Tabi, Yusak Andato juga menegaskan sikap pemuda di Tanah Tabi, menurutnya selama ini pemuda Tabi tidak pernah ribut dan bikin kacau, jadi ia menegaskan semua pemuda di Tanah Tabi mendukung kedatangan Jokowi, apalagi hendak merayakan Natal bersama – sama masyarakat.
“Jokowi datang juga jangan hanya ikut Natal, tapi juga ada misi yang harusnya bisa di capai, termasuk bagaimana bisa memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan dan masalah yang di keluhkan oleh orang Papua, selain kekerasan, hak – hak masyarakat adat, termasuk salah satunya soal 14 kursi masyarakat adat di DPRP yang sampai hari ini digantung”, kata Yusak lagi.
Demas Tokoro sebagai salah satu anggota MRP dari daerah pemilihan Tabi juga menyayangkan adanya penolakan terhadap rencana kunjungan Jokowi.

Demas Tokoro. (Foto : Amri/SP)
Demas Tokoro. (Foto : Amri/SP)
“kalau ada yang tolak, itu satu dua orang, tidak semua, ini baru pertama kali Presiden mau datang dan merayakan Natal dengan orang Papua, jadi kami sangat mendukung”, tandasnya.
Dalam pertemuan kemarin juga masyarakat adat se- Tanah Tabi sudah menyatakan sikap untuk tidak terbawa arus sehingga Dewan Adat di giring ke ranah politik ideologi dan sebagainya.
“saya mau kasih ingat bahwa Dewan Adat dan tokoh adat itu tidak urus politik dan segala macam, kita urus dan pikir ini akar rumput, jadi kita yang memiliki tanah ini (Tanah Tabi-red), kita adalah tuan, rumah, jadi kita yang punya kewenangan sebagai anak adat untuk melayani dan menyambut tamu kita”, kata salah seorang Ondoafi lainnya saat sesi curah pendapat.
Sedianya setelah pertemuan tokoh adat, pemuda dan perempuan se- Tanah Tabi, nantinya akan di matangkan lagi beberapa keputusan – keputusan penting yang berkaitan dengan hajat hidup orang Papua khususnya suku asli Tabi.
Sebelumnya, sejumlah pimpinan gereja yang tergabung dalam Forum Oikumens Gereja-Gereja Papua, dengan tegas menolak rencana kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menghadiri perayaan Natal nasional di  Jayapura, pada 27 Desember 2014 mendatang.
Hal itu disampaikan Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua, Pdt. Dr. Benny Giay, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP) Pdt. Socratez Sofyan Yoman, dan Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Papua, Pdt. Selvi Titihalawa saat mengelar jumpa pers di Kantor P3W, Padang Bulan, Jayapura, Kamis (11/12/2014).
Pdt. Benny Giay menyatakan bahwa pimpinan Gereja dengan tegas menolak kedatangan Presiden Jokowi yang akan merayakan Natal di tengah duka dan penderitaan rakyat Papua, secara khusus warga Paniai. Apalagi perayaan Natal itu akan menghabiskan dana puluhan miliar.
“Rakyat Papua sedang berduka karena pembantaian di Paniai, sedangkan Jokowi ingin merayakan Natal di Jayapura dengan habiskan dana puluhan miliar. Damai apa yang Jokowi mau bawa? Kami dengan tegas menolak kedatangan Jokowi di Papua,” ungkapnya.
Dikatakannya, saat Jokowi akan datang ke Papua, penculikan, pembunuhan dan pembantaian orang asli Papua masih terus terjadi. Karena itu tidak ada artinya Presiden Indonesia merayakan Natal di tanah Papua. Jokowi dinilai sama saja dengan presiden-presiden terdahulu, datang saat Natal, tapi kekerasan jalan terus.
“Jadi yang kami minta Jokowi buat kebijakan yang benar-benar menyentuh hati orang Papua, membentuk tim untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Papua, bukan datang untuk membantai masyarakat Papua,” katanya.
Penolakan terhadap Jokowi juga di suarakan oleh mahasiswa yang melakukan demo damai di pintu utama kampus Uncen baru di Perumnas III Waena.
(B/WAL/R1/LO1)

Sumber : Suluhpapua

Natal Tak Seperti Dulu

Aparat yang berjaga ils .lenteratimur.
Di Papua suasana natal tak lagi terasa seperti dahulu, kini semua semua serba dalam pemantauan, aktivitas gereja sudah disusupi kepentingan politik. Ada ketakuatan mendasar atas setiap pertemuan dan perkumpulan orang Papua. 

Inikah sebuah keadilan, inikah sebuah kedamaian, inikah sebuah kebersamaan hak dan kewajiban sebagai warga Negara yang taat pada aturan dan norma-norma yang berlaku. Tekanan situasi ini dampak dari tensi perjuangan papua merdeka yang makin tinggi. Tak dapat dipungkiri ada ketakutan terbesar oleh Negara kolonial terhadap lepasnya bangsa Papua untuk merdeka sejajar Negara Indonesia.

ils by Umagi
Apapun yang dilakukan oleh kolonial tak serta merta mematikan perjuangan itu, kebijakan demi kebijakan tak ada efeknya. Sudah muak dengan semua kebohongan Negara terhadap kesetaraan. 
Hak kemerdekaan adalah hak semua bangsa, maka bangsa Papua juga punya hak yang sama.

Lain halnya dengan di Papua, suasana natal di pulau Jawa sendiri sangat jelas ada sedikit trauma dari masa lalu dimana terjadi pengeboman terhadap gereja-gereja. 

Dampak dari apa yang pernah terjadi itu, kini di setiap ibadah-ibadah perayaan selalu saja ada aparat yang berjaga di depan gereja dengan senjata yang lengkap.  Tentunya jemaat atau umat yang beribadah merasa cemas atau ada sedikit deg-degan dengan situasi ini. Harusnya ibadah dengan tenang dan penuh hikmat namun tak terlalu hikmat.

Semoga saja di tahun-tahun mendatang ada perubahan, hargai-menghargai antar umat beragama, hargai perbedaan yang ada, hargai hak kemerdekaan yang ada. 
Sama-sama sebagai bangsa yang merdeka wajib untuk saling menghormati.  Karena semua sama di mata Tuhan.(PH)

Foto edt by Umaginews.com


Sejarah Lagu Natal

Setiap saat Natal, kita sering mendengar lagu-lagu Natal. Baik itu dari rumah sendiri maupun dari mall -mall, sekolah/kampus dan tentu saja dari gereja-gereja. Rasanya tidak bosan mendengar lagu-lagu itu dari kecil sampai sekarang ini. Apalagi kalo kita mendapatkan versi lamanya atau malah versi aransemen barunya. Anda tahu, ada banyak sejarah unik di berbagai lagu-lagu Natal. Berikut di antaranya.....
.
Malam Kudus (Silent Night)
.
Naskah Asli Stille Nacht
.
Kita tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal tanpa menyanyikan Malam Kudus, bukan? Terjemahan-terjemahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa-bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya. Malam Kudus sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan para musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka. Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya ...
.
Stille Nacht! Heilige Nacht!
.
Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu. Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian-bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian. Tentu tidak seorangpun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal.
.
.
Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria. Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. Ia mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya. Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu diundang pula. Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu. Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. Ia mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali ... malam yang kudus ... malam yang sunyi...
.
Silent Night! Holy Night!
.
Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu. Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya Franz Gruber, yang juga masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. Ia pun merangkap pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.
.
100th anniversary of Silent Night Christmas carol, 1918.
.
Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. Inilah hadiah Natal untukmu, katanya, sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam. Terima kasih, pendeta! balas Franz Gruber. Setelah mereka berdua diam sejenak, lalu pendeta muda itu bertanya: Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya? Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr. Pada sore harinya tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi.
.
Franz Gruber, penggubah melodi lagu “Malam Kudus”
.
Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan. Penduduk desa berkumpul untuk merayakan Malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru. Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung dipundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor. Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu Malam Kudus diperdengarkan.
.
Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya. Malam Kudus masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel di Obendorf. lalu pulang. Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik.
.
Sewaktu masih kecil, keempat gadis Strasser itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi mereka uang atas nyanyiannya. Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.
.
Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu. Salah seorang penyanyi wanita itu menuliskan kata-kata dan not-not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya. Keempat wanita itu senang menambahkan Malam Kudus pada acara mereka.
.
Makin lama makin banyak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula. Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai atraksi penutup yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain mereka menyanyikan Malam Kudus, yang oleh mereka diberi judul Lagu dari Surga. Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu saja di sana pun mereka membawakan lagu Malam Kudus.
.
Lagu Natal yang indah itu umumnya dikenal hanya sebagai lagu rakyat saja. Tetapi sang raja ingin tahu siapakan pengarangnya. Pemimpin musik di istana, yaitu komponis besar Felix Mendelssohn, juga tidak tahu tentang asal-usul lagu Natal itu.
.
Sang raja mengirim utusan khusus untuk menyelidiki rahasia itu. Utusannya hampir saja pulang dengan tangan kosong. Lalu secara kebetulan ia mendengar seekor burung piaraan yang sedang bersiul. Lagu siulannya tak lain ialah Malam Kudus! Setelah utusan raja tahu bahwa itu dulu dibawa oleh seseroang dalam perjalanannya dari derah pegunungan Austria, maka pergilah dia ke sana serta menyelidiki lebih jauh.
.
Mula-mula ia menyangka bahwa barangkali ia akan menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan Johann Michael Haydn, seorang komponis bangsa Austria yang terkenal. Tetapi sia-sia semua penelitiannya. Akan tetapi usaha utusan raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu pada penduduk setempat. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa salah seorang muridnya mungkin pernah melatih burung yang pandai mengidungkan Malam Kudus itu.
.
Maka ia menyembunyikan diri sambil bersiul menirukan suara burung tersebut. Segera muncullah seorang anak laki-laki, mencari burung piaraannya yang sudah lama lolos. Ternyata anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu yang sudah termashur itu, yang dulu diajarkan kepada burung piaraanya, ditulis asli oleh ayahnya sendiri. Demikianlah seorang bocah dan seekor burung turut mengambil peranan dalam menyatakan kepada dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang Lagu Natal dari Desa di Gunung itu.
.
Setelah satu abad lebih, Malam Kudus sesungguhnya menjadi milik bersama seluruh umat manusia. Bahkan lagu Natal itu pernah dipakai secara luarbiasa, untuk menciptakan hubungan persahabatan antara orang-orang Kristen dari dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar belakangnya.
.
Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan Pasifik diliputi Perang Dunia Kedua. Beberapa Minggu setelah Hari Natal itu, sebuah pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam peperangan, sehingga jatuh ke dalam samudera di dekat salah satu pulau Indonesia. Kelima orang awak kapal itu, yang luka-luka semua, terapung- apung pada pecahan-pecahan kapalnya yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada mereka beberapa perahu yang makin mendekat.
.
Orang-orang yang asing bagi mereka mendayung dengan cepatnya dan menolong mereka masuk ke dalam perahu-perahu itu. Penerbang-penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga: Apakah orang-orang ini masih dibawah kuasa Jepang, musuh mereka? Apakah orang-orang ini belum beradab, dan hanya menarik mereka dari laut untuk memperlakukan mereka secara kejam? Segala macam kekuatiran terkilas pada pikiran mereka, karena mereka sama sekali tidak dapat berbicara dalam bahasa pendayung berkulit coklat itu. Sebaliknya, orang-orang tersebut sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui dengan pasti, apakah tentara angkatan udara itu telah jatuh ke dalam tangan kawan atau lawan. Akhirnya, sesudah semua perahu itu mendarat di pantai, salah seorang penduduk pulau itu mulai menyanyikan Malam Kudus.
.
Kata-kata dalam bahasa Indonesia itu masih asing bagi para penerbang yang capai dan curiga. Tetapi lagunya segera mereka kenali. dengan tersenyum tanda perasaan lega, turutlah mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Insaflah mereka sekarang bahwa mereka sudah jatuh ke dalam tangan orang-orang Kristen sesamanya, yang akan merawat mereka.
.
Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu Malam Kudus? Josef Mohr hidup dari tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber hidup dari tahun 1787 sampai tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani Tuhan bertahun-tahun lamanya dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh pengetahuan orang, mereka tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar biasa.
.
Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang ... kecuali satu kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah bekerja sama untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan. Gereja kecil di desa Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada tahun 1899, sehingga hancur luluh. Sebuah gedung gereja yang baru sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu sebagai peringatan lagu Malam Kudus.
.
Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di Surga. Tangannya di taruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik gitarnya. Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan Lagu Natal dari Desa di Gunung.
.
Kesukaan Bagi Dunia (Joy to the World)
.
Lirik lagu ini diambil langsung dari Alkitab, tepatnya Mazmur 98, oleh seorang Inggris bernama Issac Watts tahun 1719. Seratus tahun kemudian, pencipta lagu berkebangsaan Amerika, Lowell Mason, menciptakan nada untuk lagu itu. Jadilah lagu "Joy to the World" sebagai salah satu hymne Natal yang indah.
.
White Christmas
.
ASCAP (The American Society of Composers, Authors and Publishers) menetapkan lagu ini sebagai lagu Natal yang paling sering dinyanyikan dalam kaset rekaman sepanjang sejarah, dengan lebih dari 500 versi dalam 25 bahasa. Lagu ini dinyanyikan oleh Bing Crosby pertama kali tahun 1942 dalam sebuah acara musikal. Irving Berlin si pencipta lagu itu sebenarnya kurang pd dengan lagunya. Tetapi selera pasar berkata lain.
Para pendengar yang saat itu berada di tengah-tengah Perang Dunia II, menyukai liriknya yang dirasakan sanggup menghibur mereka yang sedang menghadapi perang pada saat Natal. Sekarang, lagu White Christmas menjadi favorit banyak orang.
.
Gita Surga Bergema (Hark, The Herald Angels Sing)
.
Charles Wesley (adik dari John Wesley pendiri Gereje Methodist), menciptakan lirik lagu sebanyak lebih dari 3000 buah termasuk lagu "Hark, the Herald Angels Sing" ini.
Sedangkan melodinya diciptakan oleh seorang pemusik bernama Felix Mendelssohn. Lagu Natal yang dikenal dengan irama cepat ini, seharusnya dinyanyikan secara lambat dan khidmat, seperti keinginan para penciptanya. Keinginan itu memang tidak 'dikabulkan' oleh William Cummings pemublikasi lagu tersebut tahun 1955. Felix dan Charles tidak bisa protes lebih lanjut karena ketika lagu mereka dipublikasikan, mereka berdua sudah keburu dipanggil Tuhan.
.
Jingle Bells
.
Lagu ini memiliki cerita yang menarik. Tahu mengapa? Karena lagu ini sama sekali bukan lagu Natal. Tahun 1859, James Pierpont menciptakannya sebagai lagu 'kebangsaan'
pertandingan kebut-kebutan antar kereta luncur (sleigh ride). Perlombaan itu hanya diadakan saat musim dingin tiba, karena salju adalah media utama bagi kereta luncur.
Pierpont yang adalah seorang penggemar kuda dan adu cepat pada masa itu, merasa perlu menciptakan sebuah lagu riang untuk dinyanyikan saat pertandingan.
.
Arti lirik refrain lagu itu kurang lebih demikian,
.
"Bel berbunyi sepanjang jalan,
sangatlah menyenangkan naik diatas kereta luncur
yang dibawa oleh seekor kuda".
.
Entah apa yang menyebabkan lagu Jingle Bells akhirnya diasumsikan sebagai lagu Natal .
.
O Holy Night
.
Dalam segala hal, lagu yang indah dan sangat brilian dari Prancis yang berjudul “Cantique de Noël” ini, tampak tanpa cacat dan cela. Liriknya yang religius dan melodinya yang sangat indah, serta suasana yang dibawakan kepada kita mencapai puncaknya dalam setiap penampilan lagu ini. Dalam penerimaan publik pun lagu ini diterima dengan sangat baik. Lagu ini termasuk salah satu lagu natal Prancis yang sangat terkenal dan bahkan di dunia internasional.
.
Tetapi kenapa kemudian seseorang mau menolak dan melarang keras penerbitan dari karya ini di saat-saat natal? Jawabanya terletak bukan pada karakteristik dari lagu ini sendiri, tetapi pada persepsi beberapa orang terhadap pencipta lagu ini. Kisah ini bermula di tahun 1847. Di Lembah Rhône, Prancis, yang terkenal dengan anggurnya yang berkualitas, perbedaan budaya yang mencolok, serta sejarahnya yang menawan, tinggallah seorang pria yang keberadaannya disentuh oleh seluruh aspek di atas. Placide Cappeau (1808-1877), seorang anggota komunitas kota Roquemaure - beberapa mil utara kota bersejarah Avignon - yang jabatannya adalah seorang komisioner mengurus anggur, yang di waktu senggangnya diisi dengan menuliskan bait-bait puisi dalam bahasa Prancis atau dialek Lang d’oc, dengan tidak sengaja menjadi seorang tokoh kecil dalam sejarah.
.
Kejadian menarik ini terjadi ketika Cappeau menjadi teman sepasang keluarga dari Paris bernama Laurey. Keluarga ini untuk sementara ditempatkan di Selatan Prancis, agar Laurey dapat melanjutkan kariernya di bidang teknik sipil, dengan membangun jembatan melintasi Sungai Rhône di daerah Roquemaure. Tepat sebelum Cappeau pergi ke Paris untuk urusan bisnis, pendeta dari jemaat di sana meminta penulis paruh waktu ini untuk menuliskan sebuah Puisi Natal dan menyerahkannya kepada seorang komponis terkenal di Prancis bernama Adolphe Adam (1803-1856) untuk aransemen musiknya. Adam adalah seorang teman dekat istri pasangan Laurey, yang adalah seorang penyanyi. Dilaporkan, pada 3 Desember 1847, kira-kira di tengah perjalanan ke Paris, Cappeau mendapatkan inspirasi untuk puisi tersebut, “Minuit, Chretiens.”
.
Cappeau sama sekali tidak terkenal pada saat dia menghubungi Adam di Paris. Komponis tersebut sebaliknya, sedang berada pada puncak masa keemasannya - seorang yang sangat popular dan musisi yang sangat aktif. Adam baru beberapa tahun yang lalu, di tahun 1841, menghasilkan karyanya yang terbaik, balet Giselle. Karya ini biasa disebut sebagai 'Hamlet untuk karya balet', karena kisahnya yang menyedihkan, tantangannya untuk balerina yang membawakan, serta keindahan estetika hasil perpaduan koreografi dan musik. Melodi yang dibuatnya untuk karya puisi dari teman Ny. Laurey hanyalah karya kecil dari reputasinya.
.
Setelah Cappeau membawa karyanya kepada Adam, lagu ini berhasil diselesaikan dalam beberapa hari. Pemunculan perdana dari lagu ini, seperti yang telah direncanakan, adalah pada misa tengah malam di gereja Roquemaure pada Natal 1847. Sangat mudah dimengerti bahwa para penonton tidak menyangka bahwa musik yang begitu menyentuh jiwa ini sebagian adalah hasil karya seseorang dari tempat itu sendiri. Mereka sangat terkesima. Setelah pemunculan ini, bertahun-tahun kemudian, lagu ini menjadi lagu yang sangat terkenal dinyanyikan pada saat Natal. Pertama kali lagu ini diterbitkan pada tahun 1855 oleh Schott and Company di London, dan dari sanalah, lagu ini mengalami beberapa penyesuaian dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di seluruh dunia. Terjemahan yang paling terkenal adalah versi O, Holy Night yang ditulis oleh seorang kritikus musik dan jurnalis dari Amerika bernama John Sullivan Dwight (1818-1893).
.
Karena lagu ini sangat terkenal dan popular, maka beberapa orang kurang menyenangi lagu ini dan menganggapnya tidak mewakili Natal. Alasan utama serangan terhadap lagu ini bukan pada bagian seninya, tetapi lebih kepada karakteristik negatif latar belakang penulisnya. Seorang bishop dari Prancis bahkan pernah mengatakan bahwa lagu ini tidak memiliki cita rasa musik dan kehilangan (tidak ada) spirit agama di dalamnya. Adam berasal dari latar belakang non-Kristen dan pekerjaannya pun adalah komponis lagu-lagu opera untuk teater, sebuah arena yang sangat jauh dari wilayah religius teologis. Lebih buruk lagi, Cappeau, digambarkan sebagai seorang sosial radikal, pemikir bebas, sosialis, dan seorang non-Kristen. Dalam beberapa hal, pengelompokan seperti ini benar. Pada akhir masa hidupnya, Cappeau mengadopsi beberapa pemikiran politik dan sosial yang sangat ekstrim di masanya, seperti menentang ketidaksetaraan, perbudakan, ketidakadilan, dan segala macam penindasan. Hal ini sangat jelas diindikasikan dalam karya puisinya yang terbit tahun 1876 berjudul “Le Château de Roquemaure”, sebuah karya puisi filosofis 4000 baris dimana Cappeau menyangkali lirik yang ditulisnya tahun 1847 dan merevisi seluruh isi dan penampakannya. Seluruh keanehan ini terjadi pada akhir-akhir masa hidupnya, dan ditandai dengan kehidupan eksentrik yang sangat jelas. Ketika dia menulis bait-bait lagunya yang indah dan menyentuh, dia mungkin hanyalah seorang Kristen biasa, kalau tidak pendeta jemaat tersebut tidak akan memintanya untuk menuliskan suatu puisi yang sifatnya religius.
.
Secara keseluruhan, lagu ini mungkin merupakan lagu solo Natal terindah yang ada sekarang ini. Pengaruh lagu ini pada kebudayaan barat diilustrasikan di sebuah cerita yang konon kabarnya belum diketahui kebenarannya. Ketika terjadi perang antara Prancis dan Prussia (sekarang Jerman) di tahun 1870-1871, tentara Prancis dan Jerman saling berhadapan di parit-parit luar kota Paris. Pada malam Natal, seorang tentara Prancis tidak disangka-sangka melompat keluar parit dan menyanyikan lagu ini. Terpesona akan keindahan lagu ini, para tentara Jerman bukan saja tidak menembak tentara Prancis tersebut, malah mulai menyanyikan lagu Natal yang terkenal di Jerman yang ditulis oleh Martin Luther berjudul “Vom Himmel hoch” (“From Heaven Above to Earth I come”). Benar tidaknya kejadian ini, setidaknya melukiskan betapa lagu ini begitu dicintai. Jika ini sejarah, maka hal ini melukiskan pengaruh budaya dari lagu tersebut. Jika ini hanya cerita, maka hal ini mencerminkan pengaruh yang berkelanjutan dari lagu ini dalam imajinasi manusia.
.
Dari beragam keunikan lagu-lagu Natal, intinya hanyalah satu, yaitu untuk membawa suasana kehangatan Natal itu sendiri dalam setiap hati orang yang menyanyikan dan mendengarkannya.
.
Sumber : e-Reformed, dll.

ASAL MULA LAGU MALAM KUDUS

oleh: P. William P. Saunders

Kisah lagu “Malam Kudus” berawal dari sebuah kota yang indah bernama Salzburg di Austria. Di tengah semarak dan megahnya kota yang dipimpin oleh Prince Archbishop, tinggallah seorang penenun sederhana bernama Anna. Anna, sebatang kara di dunia ini, hidup sangat sederhana, hampir tak ada harapan untuk meningkatkan taraf hidupnya atau bahkan untuk menikah. Suatu ketika, ia jatuh cinta kepada seorang prajurit yang ditempatkan di Salzburg. Dari prajurit itu ia mengandung seorang bayi yang dilahirkannya pada tanggal 11 Desember 1792. Malangnya, sang prajurit tak hendak bertanggung-jawab atas puteranya dan meninggalkan Anna serta sang bayi untuk memperjuangkan hidup mereka sendiri. Walau demikian, Anna menambahkan nama keluarga sang prajurit kepada nama bayinya, yang ia namakan Joseph Mohr. Menjadi seorang ibu tanpa pernah menikah, dengan seorang anak haram, Anna harus menghadapi cemoohan dan penolakan masyarakat. Pada akhirnya, ia minta kepada algojo kota untuk menjadi wali baptis bagi bayinya Joseph.

Anna memberikan yang terbaik yang mampu ia berikan bagi Joseph. Ia sadar bahwa pendidikan yang baik akan memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi puteranya. Imam paroki setempat mengetahui kecemerlangan Joseph dan juga bakatnya menyanyi. Ia mengatur agar Joseph dapat bersekolah di sekolah biara yang terkenal di Kremsmunster. Di sana, Joseph muda menonjol dalam pelajaran-pelajarannya. Di kemudian hari ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam dan masuk seminari pada usia 16 tahun. Akhirnya, ketika siap untuk ditahbiskan pada usia 22 tahun, Joseph membutuhkan dispensasi khusus sebab ia tak mempunyai seorang ayah.

Joseph Mohr ditugaskan sebagai pastor pembantu di Gereja St. Nikolaus di Oberndorf, sekitar 10 mil baratlaut kota Salzburg, di tepi Sungai Salzach. (Gereja St. Nikolaus dihancurkan banjir pada tahun 1899, tetapi sebuah kapel peringatan berdiri di sana hingga sekarang.) Paroki di mana ia ditempatkan sangat sederhana, imam parokinya keras dan hemat, begitulah halusnya.

Di sini, Pastor Mohr bersahabat dengan Franz Gruber. Gruber adalah putera seorang penenun yang kurang menghargai musik. Franz diharapkan untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Meskipun ditentang sang ayah, Franz mulai belajar bermain gitar dan organ. Pastor paroki bahkan mengijinkan Franz untuk berlatih di gereja. Bakatnya pun segera dikenali, dan ia dikirim untuk belajar musik secara resmi. Pada akhirnya ia menetap di kota Oberndorf dengan bekerja sebagai seorang guru musik dan membina hidup berkeluarga dengan duabelas anak. Mohr dan Gruber saling berbagi dalam kecintaan mereka akan musik, mereka berdua bermain gitar.

Pada tanggal 23 Desember 1818, saat Natal hampir tiba, Mohr mengunjungi seorang ibu dengan bayinya yang baru lahir. Dalam perjalanan pulang ke Pastoran, ia berhenti di tepi sungai dan merenungkan peristiwa Natal yang pertama. Ia menulis sebuah puisi yang menggambarkan intisari peristiwa iman yang agung itu dan memberinya judul Stille Nacht, beilige Nacht; Malam Sunyi, Malam Kudus. Dalam komposisinya, ia berhasil menangkap misteri inkarnasi dan kelahiran Kristus yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata: Bayi Yesus yang Kudus, yang adalah Kristus Sang Juruselamat, Putra Allah, dan Terang Sejati Allah, dilahirkan oleh Santa Perawan Maria dan memenuhi dunia dengan rahmat penebusan dari surga.

Sekembalinya ke paroki, ia dikecewakan dengan berita bahwa organ gereja rusak. Tikus-tikus yang rakus telah menggerogotinya melalui pengembus, melumpuhkan sistem embusan yang dibutuhkan pipa-pipa untuk menghasilkan musik. Karena Natal sudah di ambang pintu dan tanpa dana yang cukup untuk memperbaiki organ, umat khawatir Misa Natal tengah malam tidak akan meriah. Pastor Mohr bergegas menuju rumah sahabatnya, Franz Gruber, dan menceritakan kesedihannya. Ia menyerahkan puisinya kepada Gruber dan memintanya untuk menuliskan melodi atas puisi tersebut agar dapat dimainkan dengan gitar. Franz Gruber menyelesaikan tugas pada waktunya. Dalam Misa Natal tengah malam pada tahun 1818, dunia mendengarkan untuk pertama kalinya lagu yang sederhana namun agung, yang kita kenal sebagai lagu Malam Kudus.

Lagu Malam Kudus mendapat sambutan yang sangat baik dan dengan cepat menyebar ke seluruh Austria, seringkali secara gampang disebut sebagai A Tyrolean Carol. Frederick Wilhelmus IV, Raja Prusia, mendengarkan Malam Kudus dinyanyikan di Gereja Berlin Imperial dan memerintahkannya agar dinyanyikan di segenap penjuru kerajaan pada pesta-pesta dan perayaan Natal. Ironisnya, lagu tersebut menjadi terkenal tanpa penghargaan kepada para penggubahnya. Sebagian orang berpikir bahwa Michael Haydn, saudara dari komposer terkenal Franz Joseph Haydn, yang menuliskannya. Oleh sebab itu, Raja Frederick Wilhelmus, memerintahkan agar dicari penggubah yang sebenarnya.

Suatu hari, para utusan raja tiba di biara St. Petrus di Salzburg untuk menanyakan perihal penggubah lagu Malam Kudus. Felix, putera Franz Gruber, yang menjadi murid di sana, menemui mereka dan menceritakan kisah di balik lagu Malam Kudus serta mengantar mereka kepada ayahnya, yang sekarang menjadi pemimpin paduan suara di suatu paroki lain. Sejak saat itulah, keduanya, Mohr dan Gruber, diakui sebagai penggubah lagu Malam Kudus.

Pastor Joseph Mohr wafat dalam usia 56 tahun pada tanggal 4 Desember 1848 karena tuberculosis. Gruber wafat dalam usia 76 tahun.

Terjemahan lagu Malam Kudus dalam bahasa Inggris dilakukan oleh Jane Campbell pada tahun 1863 dan dibawa ke Amerika pada tahun 1871, muncul dalam Buku Nyanyian Sekolah Minggu Charles Hutchins. Sementara terjemahan dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Yamuger / Seksi Musik Komlit KWI pada tahun 1992.

Sementara kita mempersiapkan datangnya Natal, kiranya kita sungguh mencamkan dalam hati kata-kata yang terdapat dalam lagu Malam Kudus dan semoga pesan yang disampaikannya kita amalkan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan-perbuatan kita.
Kepada segenap pembaca, saya mengucapkan
Selamat Hari Raya Natal!
Sumber : Catatan Fb