Tampilkan postingan dengan label Korban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korban. Tampilkan semua postingan

Saksi Sekaligus Korban Pelecehan Saat Pembubaran Diskusi, Tapi Malah disangka Hoax

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya terhadap pesan-pesan solidaritas oleh warga Surabaya, maupun warga dari kota-kota lain yang jumlahnya tidak terhingga. Mulai dari pengecaman pembubaran diskusi, ucapan belasungkawa hingga menawarkan bantuan apa yang bisa diberikan. Sejauh ini cukup dengan menyebarkan rilis resmi dari YLBHI sudah sangat membantu sekali.

Banyaknya pesan yang saya terima dari warga Surabaya membuat saya salut sekaligus mematahkan persepsi saya yang sempat pesimis terhadap bangunan narasi pendatang versus penduduk asli yang mulai dimunculkan ke permukaan. Terus terang saya khawatir jika warga Surabaya menerima mentah-mentah isu murahan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan konflik horizontal.

Saya berkata demikian bukan tanpa alasan, karena pada pembubaran diskusi di Asrama Papua Surabaya pada tanggal 1 Juli 2018 juga disertai oleh keterlibatan ormas. Saya sendiri sebagai perempuan yang sejak kecil dibesarkan di kota ini merasa asing dan tidak pernah mendengar nama ormas tersebut. Beberapa jam sebelum diskusi dilaksanakan, ormas itu mengirim surat melalui ojek online yang isinya adalah ketidaksetujuan terhadap diskusi yang akan dilaksanakan kawan-kawan. Surat itu juga mengatasnamakan pemuda Surabaya. Sampai detik ini kami tidak tahu batang hidung orang-orang yang bertanda tangan dalam surat itu.

Masih menyoal narasi pendatang versus penduduk asli, sebelumnya saya sempat memposting screenshot kolom komentar AMP yang isinya membuat perut saya mual. Banyak komentar rasis yang ditulis oleh warga Malang. Mulai dari sebutan monyet, negro, NIGGER, hingga mengatakan bahwa masyarakat Papua cuma menumpang di Jawa dan menyuruh mereka untuk 'kembali ke hutan'. Bukankah pernyataan-pernyataan demikian semakin menguatkan bahwa Papua bukan bagian dari Indonesia? Bahwa masyarakat Papua hanyalah 'numpang', padahal begitu banyak penduduk dari Jawa yang juga bekerja di Papua dan diperlakukan baik di sana. Jadi apakah kita hanya ingin mengeruk sumber daya alam mereka kemudian memperlakukan masyarakatnya seperti binatang? Apa bedanya kita dengan bangsa kolonial yang dulu menjajah Indonesia?

Semalam saya menyaksikan sendiri, bagaimana narasi us vs them ini digunakan untuk mengintimidasi mahasiswa Papua. Mereka diteriaki sebagai pendatang oleh aparat yang memblokade pintu masuk asrama. Tidak cukup sampai di sana, aparat juga menuduh motor milik teman saya sebagai motor curian. Luar biasa kan stigma yang mereka bangun?

Dalam kasus pembubaran diskusi di Malang, kawan-kawan mahasiswa Papua juga dituduh sebagai pembawa onar, pemabuk, main perempuan dan seterusnya. Framing seperti ini tentu tidak lepas dari rasisme. Bagaimana bisa orang Jawa yang setiap hari juga mabuk, main perempuan, dugem, memperkosa dan lain-lain kelakuannya tidak pernah dikaitkan dengan dari suku mana dia berasal. Saya yakin netizen dapat memahami di mana letak cacat logikanya.

Stigma yang seperti ini sungguh berbahaya jika sebagai masyarakat kita mudah terjebak dan larut di dalamnya. Bukan cuma aparat yang nanti dimanfaatkan oleh negara untuk membredel diskusi-diskusi, tapi juga kita yang sama-sama berasal dari kelas pekerja, dirugikan oleh sistem yang sama, saling menginjak satu sama lain. Apakah ini potret kebhinekaan yang katanya dijunjung tinggi oleh Indonesia?

Jika tidak ingin mahasiswa kerjanya cuma nongkrong dan mabuk-mabukan, kenapa diskusi kami kalian bredel? Kami hanya membawa buku dan alat tulis mengapa kalian lawan kami dengan senjata laras panjang? Kami hanya ingin diskusi dengan tenang tapi kalian intimidasi, kalian pukuli, kalian seret-seret. Pantas budaya intelektual kaum muda semakin hilang. Negara ini takut dengan orang-orang pintar.

Ruang diskusi selalu terbuka, masyarakat SELALU DITERIMA dalam ruang-ruang diskusi. Jika ada ketidaksepakatan utarakan dalam forum. Karena kami pun juga saling beradu argumen dalam forum. Apa begitu susah memahami logika yang sangat sederhana ini? Menyebarkan isu yang tidak-tidak, memecah belah rakyat dan membawa aparat lengkap bersenjata untuk membubarkan diskusi mahasiswa saya rasa hanyalah tindakan pengecut oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas dalam berpikir.

Tindakan represif yang kalian lakukan jangan sampai mengatasnamakan keresahan warga Surabaya. Warga Surabaya mana yang kalian maksudkan? Begitu banyak penduduk di Surabaya dari berbagai macam suku dan ras. Saya harap rakyat tidak mau diadu domba dengan sesama rakyat. Rakyat kuat karena saling bergandengan erat, bukan dengan mendorong aparat untuk mempopor senjata di hadapan sesama rakyat. Karena niscaya moncong senjata itu suatu hari akan berbalik ke arah anda.

Ketidaksepakatan boleh-boleh saja, mengidolakan figur pemimpin tertentu juga tidak ada yang melarang. Yang berbahaya adalah jika menjadi fanatisme buta sehingga mematikan keran kritik yang ada. Tidak kritis terhadap pemimpin malah sesama rakyat saling menyerang padahal sama-sama lapar.

Apalagi membenarkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh 'oknum' aparat kepolisian. Ketika payudara saya disentuh kemudian ketika saya berteriak dan marah ibu-ibu dari kecamatan dan aparat perempuan justru melindungi pelaku pelecehan dengan berteriak bahwa tidak ada yang melecehkan saya. Hal ini menjadi jelas bagi kita bahwa sesama perempuan pun bukan berarti juga melindungi kaum perempuan. Sama seperti dalam kasus penggusuran di Keputih, ibu-ibu dan anak-anak diseret keluar dari rumahnya yang dihancurkan. Begitu indah dongeng representasi perempuan sehingga kita lupa bahwa perempuan yang diberi kekuasaan juga belum tentu berpihak pada rakyat dan bisa menjadi penindas bagi sesamanya.

Akhir kata, di tengah maraknya isu-isu konflik horizontal, pencabutan subsidi dan berkurangnya tanggung jawab negara terhadap rakyat, pendidikan yang semakin mahal, pembredelan diskusi, penindasan perempuan semakin meningkat, pembangunan infrastruktur yang semakin masif dan menyebabkan penggusuran kaum miskin kota di mana-mana, meminggirkan masyarakat adat sekaligus merampas lahan-lahan petani di desa, rakyat harus bisa memetakan mana kawan dan mana lawan. Jangan-jangan apa yang dialami rakyat seperti yang saya tuliskan di atas suatu hari akan disebut sebagai hoax saja, sama seperti Humas Polrestabes Surabaya (melalui akun instagram mereka) mengatakan kejadian pembredelan semalam hanyalah hoax semata.

Anindya Joediono 

Video: Gereja Santa Maria Surabaya Di bom, Korban Berserakan

SURABAYA - Bom meledak di Gereja Santa Maria, Ngagel, Surabaya, Minggu
(13/5/2018).

"Betul tadi kejadian pukul 07.30 WIB," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes, Frans Barung,
dikutip Kumparan.

Frans belum menjelaskan lebih jauh terkait kejadian ini. "Nanti kontak saya lagi," tegasnya.

Akibat bom ini, satu orang menjadi korban. Bom meledak saat ibadah minggu akan dilakukan.

Tak Hanya Santa Maria, Total 3 Gereja Dibom 

Bom meledak di Gereja Santa Maria, Ngagel, Surabaya, Minggu (13/5/2018). Disusul kemudian di dua gereja lainnya.

Total tiga gereja di Surabaya dibom. Bom bunuh diri itu menewaskan beberapa orang.

"Iya bom ada di tiga gereja," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung, dikutip Kumparan.

Ledakan pertama, terjadi di Gereja Santa Maria, Ngagel. Disusul kemudian ledakan di GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan.

"Ini kejadian baru, jumlah korban nanti saya sampaikan," ucap Frans.

Polisi sudah di lokasi dan kawasan perempatan Ngagel Madya sudah dipasang police line.

Sumber: http://news.rakyatku.com

Dirumah sakit Wamena, Yang Sakit Ibu Tapi Meninggal Bayinya


Seorang ibu yang berasal dari Kampung Bomela Wamena, melahirkan pada 6 Februari 2017 dengan kondisi normal; namun sang ibu kemudian mengalami sakit sehingga dibawa berobat  oleh suaminya ke Rumah Sakit Umum Wamena pada 8 Februari 2017.

Dirumah sakit tersebut, ibu dan bayinya dipisah, karena yang sakit hanya ibunya dan bukan si bayi; si ibu akhirnya diinfus  perawat dan menjalani pengobatan.

Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, pada 10 Februari 2017 sang ayah diberitahukan bahwa, bayinya telah meninggal.  Menurut suster yang merawat si Bayi terkena infeksi yang menyebabkan kematian. Ayah si bayi tidak terima Karena dari awal masuk berobat yang sakit itu ibunya dan bukan si bayi. Bahkan selama dua hari antara ibu si bayi yang sakit dan bayinya terpisah.

Ketika melihat kondisi bayi dengan tangan bekas infus semakin menambah pertanyaan apa yang terjadi dengan bayi ini. Mengapa tidak ada informasi kepada ayah si bayi dari perawat atau suster yang merawat. Langsung mengambil tindakan yang berakibat pada meninggalnya si bayi.

Tidak terima dengan keadaan itu sang ayah melaporkan peristiwa ini kepada berbagai pihak, antaralain pihak gereja dan juga aktivis HAM Papua.

Memang disatu sisi ia menyadari, ini mungkin takdir tetapi sangat aneh karena yang sakit itu ibunya, dan mungkin saja, si ibu yang dikuatirkan bukan si bayi, malah si bayi yang meninggal. Ia mengingatkan kepada masyarakat yang lain untuk tetap berhati-hati saat berobat ke rumah sakit umum.

Baroy Sambom yang juga Aktivist  HAM dalam laporannya kepada media ini, menilai pemeritah tidak perduli sama rakyat, hanya uang dan suara saja yang dikejar namun tidak diperhatikan tempat orang asli Papua mati banyak dirumah sakit  wamena. Dan tidak pernah orang asli west Papua masuk berobat dirumah sakit itu, tidak pernah orang papua selamat namun hanya mayat-mayat terus keluar dari rumah sakit wamena , maka laporan ini fakta yang terjadi.

Laporan : Baroy Sambom
Editor : Phaul Heger

Aktivis HAM: Pendeta di Papua Dipukuli dan Disiksa Polisi

Pendeta Anius Hilapok, S.Th, ketua Klasis Ibele Gereja Kingmi, Kab Jayawijaya, yang diduga dianiaya dan disiksa oknum polisi di Wamena, Jayawijaya (Foto: Dok Matius Murib)

JAYAWIJAYA,  - Seorang pendeta Gereja Kingmi Kabupaten Jayawijaya dilaporkan dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah dipukuli dan disiksa oleh oknum aparat polisi di Wamena.

Peristiwa yang menimpa Pendeta Anius Hilapok, S.Th, ketua Klasis Ibele Gereja Kingmi, Kab Jayawijaya, ini terjadi pada hari Senin, 10 Januari lalu.

Matius Murib, advokat dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua yang juga menjadi anggota Tim Terpadu Penanganan Dugaan Pelanggaran HAM di Provinsi Papua dan Papua Barat yang dibentuk Menkopolhukam mengungkapkan hal itu  lewat pesan WA kepada satuharapan.com hari ini (15/01).
Menurut dia, pemukulan dan penyiksaan terhadap Anius Hilapok, diawali oleh kecelakaan lalu lintas atau tabrakan sepeda motor dengan sepeda motor di jalan raya di Wamena.

Tidak disebutkan rincian peristiwa tabrakan tersebut. Tetapi Matius menyesalkan oknum aparat keamanan yang semakin brutal dan emosional serta mengambil cara kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah.

Lebih jauh, Matius Murib menginformasikan bahwa Tim Pembela HAM dan Badan Pengurus Harian Gereja Kingmi Klasis Ibele, telah menyampaikan hal ini kepada Kapolres Jayawijaya. Rencananya, tim pendeta dari Gereja Kingmi di Wamena akan mendatangi Polres Jayawijaya pada hari Selasa mendatang  menuntut penyelesaian.

"Semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan damai," kata Matius Murib.

Edison Matuan Tewas Diduga Dianiaya Aparat

Kendati telah menjadi sorotan yang luas di Papua, dugaan-dugaan terjadinya pelanggaran HAM oleh aparat keamanan masih terus terjadi. Para aktivis menengarai kecelakaan lalu lintas kerap menjadi modus yang diduga dilakukan untuk membungkam mereka yang kritis di Papua.
Gereja Kingmi di Papua termasuk yang kritis menyuarakan aspirasi pelanggaran HAM dan penentuan nasib sendiri di Papua.

Rabu lalu, sebuah laporan dari para aktivis HAM yang diterima Matius Murib juga mengungkapkan dugaan pelanggaran HAM di Jayawijaya. Dilaporkan 5 anggota Kepolisian Resort Jayawijaya melakukan penganiayaan terhadap  Edison Matuan hingga tewas di UGD RSUD Wamena.

Pada hari Jumat, 13 Januari 2017, jenazah Edison Matuan dibawa ke Jayapura untuk diotopsi di RS Bhayangkara Kotaraja.

Menurut Matius, Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, menginformasikan bahwa dugaan penganiayaan hingga tewasnya Edison kini dalam proses penanganan bersama Kapolres Jayawijaya dengan dibantu oleh Polda Papua.

"Sedang ditangani untuk diminta penjelasan para pihak guna buktikan kebenaran kejadian tersebut. Saya setuju korban diotopsi sehingga bisa dibuktikan penyebab kematian korban," kata Kapolda, lewat pesan WA yang diterima Matius Murib..

Info awal, menurut Kapolda, korban dan pelaku sama-sama mengkonsumsi miras.

"Apakah benar atau tidak, perlu pemeriksaan. Jadi kami akan tangani soal ini dengan proporsional dan prosedural hukum," kata Kapolda Papua.

Namun dalam perkembangannya, keterangan Kapolda mengatakan bahwa korban dalam keadaan mabuk berat dan dalam keadaan luka-luka ketika diamankan oleh polisi. Hal itu ia ketahui setelah mendapat laporan dari Kapolres Jayawijaya.

"Kesalahannya tidak segera dibawa ke RS tetapi dititipkan di Polsek sampai dengan  hari berikutnya sehingga diduga sudah semakin drop kemampuannya yang kemudian saat dibawa ke RS korban meninggal dunia," kata Paulus.

Kapolda mengatakan telah menurunkan tim Propam Polda Papua untuk melakukan pemeriksaan kepada para anggota kepolisian yang mengamankan korban.
Editor : Eben E. Siadari
Sumber: SATUHARAPAN.COM

Artis Cita Citata Hina Papua

ARTIS JAKARTA INI....

Kepada TransTV, Perempuan ini sombong dengan sdh bisa menggunakan busana 'mirip busana Papua', sesumbar bilang dia hrs dihias menjadi cantik, NGGAK KAYA PAPUA...

Ko mau pakai busana apa saja terserah ko, tapi jangan menghina kami dengan membandingkan rupamu, dan papua.. dengan seenaknya saja.. Apa yang dia maksud dgn nggak kaya papua yaaa....!!

Kalau Papua memang sampai hari gini masih tak bisa diakui kecantikkannya, untuk apa kami tinggal di dalam negara ini....!!! 

yang artisnya saja.. pikirannya sempit dan goblok.....!!!!

Pertanyaan pembanding utk perempuan ini, kalau dia pakai busana yogyakarta, apakah dia akan mengeluarkan perkataan 'nggak kaya yogya....????', ngomong asal ceplos....

Sumber: @inserttranstv 08 feb 2015


Updatetan diatas dicopas dari facebook W. Oinari 

Ikuti komentar dilink ini : Facebook
 ==========================
Tonton videonya disini : Citata


http://www.bacajuga.com/wp-content/uploads/2014/12/cita-2Bcitata.pnghttp://us.images.detik.com/content/2014/10/21/1303/citadepan1oke.jpg

"KUBURAN MASSAL DI LAPANGAN K.GOBAI -PANIAI

"KUBURAN MASSAL DI LAPANGAN K.GOBAI, LAYAK MENJADIKAN TUGU PERINGATAN HAM DI PANIAI" 

Paniai - kuburan massal 4 jenazah korban penembakan di lapangan Karel Gobai pada tanggal 10 desember 2015 lalu, layak menjadikan tugu peringatan Pelanggaran HAM di paniai.

Foto Korban Penembakan
Hal ini penting karena di lihat dari peristiwa itu dan selama ini yang masyarakat hidup tidak terlepas menghadapi berbagai kekerasaan baik di lakukan oleh Oknum aparat militer maupun Kelompok pemuda pengacau lingkungan masyarakat mee di paniai.

Untuk itu di harapkan kepada semua pihak terutama pemerintah daerah tidak boleh menerima tawaran-tawaran Pembongkaran Kuburan, yang datang dari pihak manapun termasuk TNI baru yang bertugas menggantikan TNI lama di kabupaten paniai.

Apapun alasannya tidak boleh terima pembongkarkan kuburan Massal yang ada di lapangan karel gobai, apalagi sekarang ini masyarakat sedang menunggu Tim penyelikan Pelanggaran HAM yang telah di bentuk dari Komnas Ham RI untuk datang mengambil data fakta tentang peristiwa besar sebagai upaya pengungkapkan pelaku dan mendorong penyelesaiannya di Pengadilan Ham.
Masyarakat paniai berkeinginan peristiwa besar itu harus selesai sampai tuntas bukan berkeinginan tentang pembongkaran kuburan atau informasi lainnya yang dapat melukai hatinya.

Kuburan yang ada di lapangan karel gobai masyarakat paniai lakukan sesuai aturan adat ada atas komitmen bersama masyarakat dan pemerintah daerah, maka jika ada pihak tertentu yang sedang upayakan untuk pembongkarannya bebarti mereka tidak mengormati terhadap aturan adat paniai, mereka berusaha untuk teus menimbulkan ketakutan diatas ketakutan bagi masyarakat paniai dan untuk tetap menjadikan ladan kejahatan di tanah paniai.

Tidak boleh di biarkan kejahatan itu terus terjadi di paniai, harus ada langkah-langkah pembatasan yang dapat di lakuna bersama seluruh masyarakat dan pemerintah daerah untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan damai di paniai dan sebagai pembatasannya kuburan massal yang ada di lapangan karel gobai menjadikan Tuguh Peringatan HAM di tanah paniai. (TP)

Sumber : Catatan Tinus Pigai
Pembunuhan Dua Anggota Brimob di Kawasan Freeport

Pembunuhan Dua Anggota Brimob di Kawasan Freeport


Belum Diketahui Motif Pembunuhan Dua Anggota Brimob di Kawasan Freeport

Aktivitas di PT Freeport Indonesia [msn]
Aktivitas di PT Freeport Indonesia [msn]
[JAYAPURA] Hingga Jumat (2/1) siang, belum diketahui secara pasti apa motif pembunuhan dua anggota Brimob di kawasan tambang PT Freeport Idonesia di Timika,  Kamis (1/1) malam   sekitar pukul 20.30  WIT.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige Renwarin saat dikonfirmasi SP, Jumat (2/1) pagi hanya menuturkan kronologi penembakan itu.

Disebutkan, dua orang aparat kepolisian bersama seorang security PT Freeport, melakukan patroli ke arah Utikini, di kawasan tambang PT Freeport, Timika, Papua, mengunakan Mobil LWB Amoret Merk Toyota warna putih No Lambung 014900. Hingga pukul 21.00 WIT, tak ada kontak komunikasi dari patroli pertama tersebut. Karena itu, mobil patroli kedua, yang di pimpin Ipda Risky melakukan patroli menuju ke tempat yang sama, yaitu Utikini. 

Namun, sesampainya di jembatan, terlihat  mobil dalam keadaan berhenti. Tim patroli kedua langsung turun memeriksa dan menemukan ketiga  korban tergeletak di sekitar mobil dalam keadaan luka bacok dan tertembak. Ketiga korban  langsung dievakuasi menuju Rumah Sakit Tembagapura.

Dikatakan, mereka yang menjadi korban adalah Bribda Riyan Hariansah mengalami luka tangan atau lengan kanan putus, luka bacok bagian kepala belakang, luka tembak pada leher kiri, dan luka tembak pada kepala belakang  dan  meninggal dunia. Lalu Bribda  M Adpriadi  luka bacok pada leher, luka bacok pada kepala belakang dan luka bacok pada tangan kanan  juga meninggal dunia. Sementara, Suko Miartono Security PT Freeport Indonesia mengalami luka tusuk pada dada. 

"Dari hasil olah TKP yang dipimpin oleh Kasat Reskrim Akp Sarraju telah di temukan 13 selonsong peluru 9 mm dan 4 butir amuniai 5,56 mm," ujar Kabid Humas. 

Dan  dari hasil penyisiran, ditemukan 3 warga yang dalam dipengaruhi minuman keras. Dua orang langsung meloncat ke kali, dan satu orang berhasil ditangkap selanjutkan diamankan.

Jenazah Bripda M Andriadi  dan Bripda Rian Ariansyah diberangkatkan hari ini  ke Palembang dengan  menggunakan pesawat Airfast, pada pukul  11.00 WIT. 

Sebelumnya ‎, Rabu 31 Desember 2014  sekitar pulul 10.30 WIT, seorang anggota Polres Paniai bernama Briptu Arif Sumahendra ditembak oleh orang tak dikenal di  Kampung Dagokebo Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Pania saat hendak berangkat menuju ke kantornya. Akibat penembakan itu, Briptu Arif mengalami luka tembak di punggung pinggang sebelah kanan hingga pelurunya bersarang di perut.

Korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.  Sementara itu dalam  press realease Kapolda Papua Irjen Pol Drs Yotje Mende SH MHum, di Ruang Rupaatama, Polda Papua  tanggal 31 Desember 2014. Selama 2014, kelompok kriminal bersentjata melakukan 45 kekerasan, 12 korban tewas. Kapolda Polda Papua memprediksi bahwa aksi kekerasan bersenjata masih akan meningkat pada tahun 2015 ini. [154/N-6]

Karyawati Air Asia Marah Lihat Gambar Mayat di TV

Karyawati Air Asia Marah Lihat Gambar Mayat di TV

KRI Bung Tomo evakuasi 6 jenazah korban pesawat jatuh


KANALSATU -  Badan SAR Nasional (Basarnas)  melalui Dan Penerbang AL Laksma Sigit Setiyanto mengatakan enam jenazah yang mengapung di dekat serpihan badan pesawat di perairan dekat PangkalanBun sudah dievakuasi ke KRI Bung Tomo, yakni armada kapal TNI AL yang diterjunkan untuk pencarian pesawat AirAsia yang hilang sejak minggu pagi (28/12).
“Pencarian obyek dan jenazah terus dilakukan untuk dievakuasi ke KRI Bung Tomo,” kata Laksma Sigit Setiyanto, Selasa sore (30/12) pasca ditemukannya sejumlah objek benda yang dipastikan bagian dari pesawat sejak pukul 10.15.
Terkait dengan itu, Basarnas akan menerjunkan tim selam andalan untuk terus melakukan eksplorasi dan evakuasi baik benda-benda penting dan jenazah yang kemungkinan masih berada di dasar laut perairan itu yang kedalamannya diduga 25-30 meter.
 Sebelumnya, Basarnas memastikan 95% obyek temuan berupa serpihan benda yang berserakan di tiga area di perairan dekat Pangkalanbun adalah bagian dari badan pesawat. "Sedangkan 5%-nya “kemungkinan” itu adalah bagian dari pesawat AirAsia QZ8501 yang sedang kita cari,” kata Kepala Basarnas,  Marsekal Madya FHB Soelistyo saat memnerikan keterangan pers, Selasa sore (30/12).
lokasi penemuan
Pencarian secara khusus di wilayah perairan dekat PangkalanBun itu dilakukan oleh Basarnas sejak pagi tadi, setelah sebelumnya mendapatkan informasi dari dua pihak nelayan yang memberikan kesaksian adanya pesawat terbang rendah pada Minggu pagi, serta terdengar suara ledakan keras. Perairan itu hanya sekitar 10Km dari perairan Belitung sebagai pusat pencarian pada hari pertama dan kedua.
Menurut Soelistyo, penemuan obyek serpihan benda pertama sekitar pukul 10.15, kemudian dilanjutkan oleh temuan-temuan lain hingga pukul 13.50, diantaranya berupa 10 serpihak yang berserak di tiga lokasi. Bahkan KRI Bung Tomo - TNI AL berhasil menemukan obyek benda yang dipastikan emergency exit down, serta ditemukan 3 jenazah terapung.
Di sekitar lokasi tersebut, salah satu pesawat helikopter  milik TNI AU menemukan bayangan obyek benda besar yang hampir dipastikan sebagai badan utama pesawat. “Kedalaman perairan di sekitar lokasi hanya 25m – 30 m, sehingga untuk mengeksplorasi lebih banyak bisa mengandalkan tim selam Basarnas,” kata Soelistyo.(win5 - Kanalsatu) 

Karyawati Air Asia Marah Lihat Gambar Mayat di TV

  Keluarga korban menangis saat mendengar berita ditemukannya serpihan pesawat Air Asia.
SURABAYA -- Beberapa keluarga korban pingsan saat salah satu stasiun tv swasta menayangkan jenazah diduga penumpang Air Asia, yang mengapung di laut.

Seorang karyawati Sephira Airasia mengamuk melihat tayangan tersebut. Ia langsung keluar posko Crisis Center dan memarahi wartawan stasiun televisi yang menayangkan gambar tersebut.

"Masa  tayangin gambar mayat! Yang bener aja!" teriak Sephira, Selasa (30/12).

Wartawan tv itu mengatakan timnya sedang mengontak kantor pusat untuk menghentikan tayangan tersebut. Hingga saat ini suasana Crisis Center sangat tegang. Keluarga penumpang banyak yang menangis. 

Keluarga penumpang pesawat Air Asia QZ 8501 sangat terpukul begitu Basarnas memastikan serpihan-serpihan yang ditemukan oleh tim SAR gabungan, adalah bagian dari pesawat yang hilang. Bahkan, Tiga orang dilarikan ke posko kesehatan. 

Seperti diketahui pesawat Air Asia QZ8501 hilang dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura, pada Ahad (28/12) pagi. Pesawat itu membawa 155 penumpang yang mayoritas merupakan warga negara Indonesia. (REPUBLIKA.CO.ID)
Penyisiran Aparat Warga Mengungsi

Penyisiran Aparat Warga Mengungsi

RATUSAN MASYARAKAT TIGINAMBUT & SINAK MENGUNGSI

Puncak Jaya & Sinak Tegang, Rakyat Tak Aman dan Terancam Hak Hidupnya


Pucak Jaya- Terkait Penembakan yang menewaskan 8 Anggota TNI, 21/2/2013, kini ratusan masyarakat pun mengungsi dari Tiginambut dan Sinak. Pengungsian slalu dilakukan oleh rakyat Papua, ketika kekerasan terjadi di daerah, di mana mereka tinggal, karena, situasi tersebut, slalu dimanfaatkan oleh TNI/Polri untuk melakukan penyisiran terhadap warga sipil, di sekitar daerah kejadian. Pungungsian itu dilakukan sebagai upaya penyelamatan diri dari intimidasi atau pembunuhan atas penyisiran yang dilakukan aparat keamanan, atas ketidak sanggupan mereka menangkap atau mengejar pelaku, sebagai mana, hal itu slalu terjadi berulang-ulang dari awal pencaplokan Papua ke dalam NKRI hingga kini.

Menurut keterangan saksi di lapangan, Y/P dari Tiginambut dan V/T dari Sinak, Rakyat saat ini sedang mengungsi jauh dari kejadian, yang jauh dari Kecamatan Tiginambut dan Sinak, sebagai upaya penyelamatan diri. Y/P mengawatirkan ada korban saat pengungsian. Menurut saksi mata, situasi di Puncak Jaya dan Sinak sampai saat ini masih tegang. Sementara menurut Koordinator NAPAS, Marthen Goo, Pelakunya masih simpang siur. Apakah benar TPN (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang melakukannya, atau ada pihak tertentu. Karena jika dilakukan oleh TPN, pasti diikuti dengan pernyataan mereka terkait alasan penembakan. Jika itu dilakukan oleh TPN, itu merupakan perlawanan mereka atas tuntutan keinginan Merdeka, atas proses pembunuhan yang terus dilakukan oleh Negara Indonesia melalui kekerasan dari awal integrasi hingga saat ini. Penembakan ini sebagai protes terhadap Negara dan dunia, atas pencaplokan dan kekerasan yang terus dilakukan Negara. Semua pihak harus dewasa melihat hal ini. Marthen juga membantah pernyataan-pernyataan petinggi Militer Indonesia terkiat rakyat sipil bersenjata. Menurut Marthen, di Papua itu tidak ada rakyat sipil bersenjata. Yang pegang senjata di Papua itu hanya TNI/POLRI, TPN (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat), dan Intelijen. Pernyataan Rakat Sipil bersenjata itu hanya untuk melegitimasi dilakukannya penyisiran di kehidupan rakyat sipil, yang justru menjadi peluang pembantaian dan pembunuhan rakyat sipil, sebagai upaya kelegalan kekerasan. Dan ini tidak benar, sehingga hal itu harus diluruskan. Marthen mengkawatirkan, pernyataan rakyat sipil bersenjata hanya segabai legalitas untuk dilakukannya pembantaian terhadap rakyat sipil, ketika Aparat tidak mampu mengejar pelaku.

Terkait peristiwa itu, Marthen Goo memintah, melalui kasus ini, sesungguhnya semua pihak harus mencari Solusi, bukan saling salah menyalahkan. Jika melalui kekerasan ini, dilakukan represif yang besar, justru akan mempersulit persoalan, dan akan menambah korban dan dikawatirkan akan meluas. Jika perundingan atau Dialog bisa menjadi sarana, semestinya Negara mau buka diri, bukan Negara justru melakukan kekerasan terus menerus di Papua. pada saat yang sama, Marthen juga menghimbau pada semua tim Independen yang pro kemanusiaan dan para simpatisan, untuk membantu memonitoring kasus kekerasan di Puncak Jaya dan Sinak, serta bersama untuk dilakukannya Advokasi agar kekerasan di Puncak Jaya tidak membias dan meluas pada rakyat sipil tak berdosa. (***BIKO***)

Sumber   : NAPAS

8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas

Kodam XVII Cenderawasih Benarkan 8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas 

Pihak Kodam XVII Cenderawasih mengakui korban tewas sebanyak delapan anggota TNI dan dua warga sipil, akibat baku tembak antara TNI dan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Kamis (21/02/2013) pagi.
"Total korban tewas TNI 8 orang, dan 2 orang masyarakat sipil," kata Kapendam XVII Cenderawasih, Letkol Jansen Simanjuntak, seperti dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (21/2/2013) siang.

Menurutnya, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak.

Menyinggung rencana penambahan pasukan, Jansen mengaku belum ada penambahan pasukan sementara ini. Apalagi saat ini masih tergolong situasi aman sehingga TNI belum bisa melakukan sweeping ataupun aksi lainnya karena bukan darurat militer, sehingga masih kewenangan pihak kepolisian. [ksr]


TNI Belum Bisa Pastikan Kelompok Penyerang di Puncak Jaya 

  Delapan anggota TNI dan dua warga sipil tewas dalam baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Kodam XVII Cenderawasih belum bisa memastikan kelompok yang bertanggung jawab atas rangkaian penyerangan mematikan tersebut.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Letkol Jansen Simanjuntak di Jayapura, Kamis (21/2/2013), mengatakan pihaknya masih belum bisa memastikan kelompok bersenjata yang bertanggung jawab karena belum dilakukan olah tempat kejadian perkara dan masih fokus proses evakuasi korban menuju kota Jayapura.

“Kalau di Tingginambut selama ini kita tahu ada kelompok pimpinan Goliath Tabuni, dan untuk wilayah Sinak biasanya ada kelompok Yambi di bawah pimpinan militer Murib yang sering beroperasi. Hanya saja belum bisa kami pastikan. Pengejaran terus dilakukan,” terang Jansen.

Jansen mengatakan, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak. [ksr]
------------------
sumber :  www.city.seruu.com