Tampilkan postingan dengan label KABUPATEN NABIRE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KABUPATEN NABIRE. Tampilkan semua postingan

Catatan Kritis Untuk Bupati Nabire (bagian pertama)

Kemana Larinya Dana Pendidikan Untuk Mahasiswa?

Oleh Oktovianus Pogau*

HAMPIR 12 tahun –sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA)– saya tinggal di kota Nabire. Telah merasakan menjadi orang Nabire. Dan merasa memiliki kota ini. Sebagai kaum muda yang peduli pada kota ini, saya merasa terpanggil untuk menulis sebuah catatan. Catatan kritis (baca: masukan) untuk bupati, juga wakil bupati Nabire terpilih saat ini.

Catatan ini sebagai bentuk dukungan moril saya pada kepemimpinan bupati dan wakil bupati yang telah dilantik sejak 4 Mei 2010 silam –berarti sudah 1 tahun 3 bulan. Pada bagian pertama dari catatan ini adalah terkait sektor pendidikan. Bagaimana kebijakan kongkrit bupati dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), salah satunya perhatian terhadap mahasiswa-mahasiswi asal Nabire yang sedang mengenyam studi di berbagai kota –baik di Papua maupun luar Papua.

Tekad dan Komitmen Bupati


Bupati Nabire, Isaias Douw, S.Sos, dalam wawancara eksklusif dengan Tabloid Mingguan Suara Perempuan Papua (TSPP) di Jayapura pernah mengatakan bahwa dirinya maju dan dilantik menjadi bupati Nabire bukan untuk mencari kekayaan, tetapi melayani masyarakat kota Nabire. Ia juga sekaligus mengajak semuah pihak –pemerintah dan masyarakat luas– untuk membuat kasih pada sesame melalui tugas masing-masing. (Baca Tabloid Mingguan Suara Perempuan Papua, Edisi XXI/4-11 Me 2011).

Juga dalam media yang sama katanya “Secara khusus kepada anak-anak muda di sekolah, di kampus, di jalanan, di terminal, di rumah, ketahuilah bahwa manusia dan bangsa-bangsa hanya dapat dibentuk selagi muda. Mereka tidak dapat diperbaiki lagi sesudah menjadi tua. Jadilah pelopor, bukan pengekor! Pemuda hendaknya tampil sebagai agen perubahan, minimal untuk pribadi Anda. Itu adalah tantangan Anda dan kita bersama untuk membangun kabupaten ini (Nabire) dan secara umum Papua.”

Dari kutipan pernyataan diatas, saya melihat paling tidak bupati ingin menyampaikan beberapa hal, pertama; saya (Isaias) menjadi bupati Nabire bukan untuk mencari harta kekayaan (secara tidak langsung berikan pernyataan tegas bahwa tidak akan melakukan tindakan korupsi), kedua; Papua, secara khusus Nabire dapat dibangun oleh orang-orang muda (baca: pemuda dan mahasiswa) yang memiliki SDM yang handal, ketiga; pemuda dan mahasiswa dimanapun berada harus belajar dengan sungguh-sungguh, agar kedepannya dapat berpartisipasi dalam membangun Nabire, keempat; dengan belajar sungguh-sungguh, pemuda dan mahasiswa tentu mampu menjawab tantangan untuk Papua, dan Nabire secara khusus dikemudian harinya.

Saya kira sebuah pernyataan yang sangat baik, dan patut diacungkan jempol. Paling tidak bupati Nabire sudah menunjukan kemauan besar –komitmen, tekad, serta kesungguhan– dalam membangun kota Nabire, khususnya meningkatkan kecerdasan atau memajukan kualitas SDM masyarakat kota Nabire, khususnya lagi bagi pemuda dan mahasiswa.

Dalam program pembangunan lima tahun ke depan Kabupaten Nabire, sektor pendidikan mendapat perhatian yang cukup. Pada berbagai media massa bupati Nabire menyatakan hal itu. Juga komitmen dirinya dalam peningkatan SDM masyarakat Nabire. Memang harus demikian, bahwa pendidikan perlu mendapat perhatian yang ekstra serius, karena ia tentu akan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, juga masyarakat kota Nabire.

Kontras Dengan Pernyataan

Tapi, bagaimana jika pernyataan bupati Douw di media, juga dalam berbagai pertemuan kontras dengan realitas di lapangan. Apakah seorang bupati telah berbohong? Humbar janji? Atau justru membangun opini publik agar ia dianggap peduli, dan juga memperhatikan sektor pendidikan? Kita akan lihat sama-sama apa yang kontras, dan sudah harus menjadi perhatian bupati secepat mungkin.

Saya akan menunjukan beberapa fakta yang tentu dapat mengantarkan kita untuk pertanyakan komitmen dan tekad bupati Nabire. khususnya dalam sector pendidikan, dan komitmen memajuka SDM masyarakat kota Nabire, khususnya lagi perhatian bupati untuk pemuda dan mahasiswa asal Nabire di berbagai kota studi.

Hampir semua bupati –baik definitiv maupun karateker– di wilayah Papua Tengah –Paniai, Dogiya, Deiya, dan Intan Jaya– telah menunjukan tekad dan komitmen mereka dalam meningkat kualitas SDM. Mereka juga secara serius memperhatikan, dan juga memenuhi kebutuhan mahasiswa-mahasiswi mereka diberbagai kota studi –termasuk di kota Jawa dan Bali. Kebijakan setiap kepala daerah tersebut benar-benar menjawab kebutuhan pendidikan untuk daerah, juga untuk pemuda dan mahasiswa mereka.

Komitmen keempat kepala daerah (baca: bupati) di daerah-daerah diatas terbukti nyata ketika mereka mengirim team (baik dari pemerintah, juga legislatif) untuk mengunjungi seiap mahasiswa. Tujuan utama adalah memberikan dana akhir studi bagi mahasiswa semester akhir, mengurusi pemondokan (asrama mahasiswa atau kontrakan) serta memberikan dana pengembangan organisasi.

Salah satu contoh adalah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Intan Jaya. Bupati Maximus Zonggonau bersama ketua DPRD, Manfred Sondegau, juga anggota DPRD yang membidangi pendidikan, kepala bagian kesejahteraan sosial, beserta bendahara daerah telah mengunjungi mahasiswa mereka di hampir semua daerah, juga termasuk di Jawa dan Bali. Mereka berhasil mendata nama-nama seluruh mahasiswa. Dan sekembalinya dari pendataan, biaya pemondokan, juga biaya pendidikan kepada tiap mahasiswa telah dikirimkan melalui nomor rekening. Cara ini dianggap cukup berhasil, walaupun kabar yang saya dapat, hanya baru 30% yang terealisasikan.

Pemda Dogiya, Deiya dan Paniai juga melakukan cara yang sama. Telah mendatangi, melihat, serta langsung memenuhi kebutuhan tiap mahasiswa di setiap wilayah. Dengan kunjungan seperti itu, paling tidak mahasiswa telah merasakan benar-benar diperhatikan oleh Bupati, juga secara umum oleh pemda. Tanggun jawab pemerintah daerah memang benar-benar harus di wujud nyatakan dengan tindakan kongkrit. Sebab, pemuda dan mahasiswa merupakan tulang punggung kemajuan sebuah daerah, yang tentu harus mendapatkan perhatian dan pembinaan.

Bagaimana Dengan Nabire?

Nah, sekarang bagaimana dengan Kabupaten Nabire? Apakah bupati Nabire melakukan kebijakan yang sama dengan cara yang dilakukan beberapa bupati yang telah disebutkan diatas? Atau juga ikut berpartisipasi dalam mendukung peningkatan kualitas SDM untuk kaum pemuda dan mahasiswa asal Kabupaten Nabire di tiap wilayah Indonesia? Jawabannya, sampai saat ini tidak ada dana pendidikan yang sampai pada mahasiswa.

Pertanyaannya, kemana larinya dana pendidikan untuk mahasiswa? Kabarnya, hingga awal bulan Agustus ini perhatian dari bupati Isaias Douw selaku orang nomor satu di Nabire tak nampak. Hampir semua mahasiswa asal Nabire –baik yang berada di Papua juga di Jawa dan Bali– terus mempertanyakan dana pendidikan tersebut, khususnya alokasi untuk pendidikan mahasiswa. Juga menagih “sebuah janji” terkait komitmen dan tekad dalam meningkatkan SDM masyarakat kota Nabire yang telah digembar-gemborkan bupati Nabire saat ini.

Padahal, kalau mau diamati lebih lanjut, Kabupaten Nabire telah berdiri lama dibandingkan Intan Jaya, Dogiyai, dan juga Deiya. Tentu Nabire mendapat porsi anggaran yang lebih besar. Termasuk dana untuk peningkatan SDM di sektor pendidikan. Dan apalagi beberapa daerah tersebut belum ada bupati definitif seperti Nabire, kecuali Paniai. Mereka masih berada di bawah bupati karateker.

Ini tentu menjadi pertanyaan besar untuk bupati Nabire? Kenapa bisa demikian? Apakah memang dana pendidikan untuk mahasiswa Nabire tidak ada? Atau telah dialokasikan tetapi tidak sampai pada mahasiswa? Atau telah dialokasikan, tetapi disalurkan dengan bentuk dan cara yang berbeda? Saya sendiri tak mau menduga secara asal-asalan. Tetapi paling tidak bupati harus memberikan penjelasan, juga pernyataan terkait hal ini. Hanya seorang bupati yang bisa menjelaskan semuanya, apalagi saat ini bupati memiliki kewenangan (kekuasaan) tertinggi melebihi kewenangan kepala dinas pendidikan sekalipun.

Kondisi mahasiswa asal Nabire di berbagai kota studi –baik di Papua maupun Jawa dan Bali – saat ini seperti ayam yang kehilangan induk. Bingung kepada siapa harus berharap, juga kepada siapa harus bertanya. Bahkan yang lebih miris lagi, hampir semua mahasiswa asal Nabire menumpang tinggal di setiap kontrakan atau asrama dari pemda Paniai, Dogiyai, Deiya, atau Intan Jaya. Tentu ini sebuah fakta yang sangat menggenaskan.

Dana Pendidikan

Dari salah satu sumber terpercaya menyatakan bahwa jumlah dana pendidikan yang telah dianggarkan untuk Nabire di tahun 2011 adalah 6 milyar. Ini tentu tidak mengherankan, sebab misalkan Kabupaten Dogiyai saja, untuk tahun anggaran 2011 pemerintah daerah setempat telah anggarkan sebanyak 4 milyar (Papua Post Nabire, 06 April 2011). Tentu tidak mengherankan jika kabupaten yang telah memiliki bupati definitif seperti Nabire mendapat anggaran yang begitu besar.

Sikap seorang bupati yang pandai “membual” lewat berbagai pernyataan di media massa, tentu harus dipertanggung jawabkan. Jika tak punya niat baik, atau tidak serius dalam meningkatkan kualistas SDM, termasuk membantu pemuda dan mahasiswa di berbagai kota studi di Indonesia, maka tak harus berkomentar sembarang. Pernyataan yang tak benar di media massa tentu menjadi bumerang bagi bupati sendiri, juga untuk jenjang karirnya dikemudian hari.

Lebih baik diam dan bekerja, dan menunjukan fakta kerja di lapangan, dari pada memberikan berbagai pernyataan, tapi tidak sesuai dengan fakta dilapangan. Ini tentu menunjukan siapa seorang bupati, dan sejauh mana integritas yang dimiliki. Memang benar, bahwa belum genap dua tahun memerintah, tapi perlu diingat juga, dua tahun bukan merupakan waktu yang singkat untuk memaksimalkan semua sektor, secara khusus sektor pendidikan.

Akhir kata, semua belum terlambat, artinya masih ada waktu untuk membuktikan bahwa Douw-Magai memang serius, dan benar-benar ingin membangun Kabupaten Nabire, khususnya dalam sektor pendidikan.

Caranya adalah penuhi tuntutan mahasiswa dengan memberikan biaya sesuai kebutuhan mereka –baik untuk mahasiswa di Papua juga di Jawa maupun Bali. Saya hanya takut, jika tidak dipenuhi, dampak buruknya akan dirasakan sendiri oleh bupati selaku orang nomor satu di Kabupaten Nabire. Semoga ada langkah bijak. Amakane. (BERSAMBUNG)

*Oktovianus Pogau adalah mahasiswa asal Kabupaten Nabire, saat ini studi di Jakarta.


Berat Meninggalkan Kota Ini

Berat Meninggalkan Kota Ini

OCTHO- Memang berat meninggalkan kota ini. Nabire nama kotanya. Luas wilayah Kabupaten Nabire adalah 15.357,55 km2 , dan terletak diantara 134,35 BT – 136,37 dan 2,25 LS – 4,15 LS, 172.315.
Jumah pendudukan Kabupaten Nabire sebanyak 92.476 jiwa dan perempuan sebanyak 79.839 jiwa. Tahun 2004 terjadi peningkatan penduduk sebanyak 8.510 jiwa (jumlah penduduk tahun 2003 sebanyak 160.882 jiwa) atau meningkat sebesar 2,3%.

Nabire adalah kota tempat saya di besarkan. Sejak usia 5 Tahun saya telah tinggal di kota ini. telah berusah mencintai kota ini seperti kota kelahiran sendiri.

Memang saya bukan orang asli Nabire, namun kecintaanku pada kota ini telah lebih dari orang Nabire. Saya mencintai kota ini karena di kota ini terdapat banyak orang yang saya cintai. Mereka adalah teman, orang tua, para guru bahkan “sahabat-sahabat” yang pernah saya kencani. Mereka sungguh sangat berarti dalam kehidupanku.

Kota ini telah mengajari saya tentang arti pendidikan. Karena sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas saya tempuh disini. Banyak suka dan duka selama pendidikan. Hal paling penting adalah mengerti akan makna dan arti penting pendidikan, bahwa sekolah itu bukan demi ijazah tetap demi hidup di masa depan nanti.

Saya memang pernah berpikir bahwa suatu waktu mau tidak mau saya harus keluar dari Nabire. Hal itu memang terbukti nyata. Saya telah keluar. Keluar, keluar jauh dari kota Nabire.

Banyak kenangan yang saya buat di kota Nabire. Mulai dari kenangan yang baik hingga pahit. Semua membuat saya semakin dewasa dan mengenal akan arti kehidupan. Di kota ini saya belajar menangis. Di kota ini saya belajar tertawa, bahkan di kota ini saya belajar “marah”, marah terhadap sebuah realita yang tidak menentu.

Kadang kemarahan membuat saya harus lebih giat belajar. Saya marah dengan realitas hidup orang asli Papua. Mereka sungguh terpuruk di tanah mereka sendiri. Mereka benar-benar di buat terpuruk. Sistem pemerintah Pusat mengharuskan mereka menjadi orang kelas nomor dua.

Di kota ini, saya belajar untuk berteriak lewat tulisan. Saya berusaha dengan segala ketidakmampuan. Namun tekad dan kemauaan menjadikan saya sedikit bisa. Hal ini memang terbukti. Banyak media yang bersedia memuat gagasan pemikiran saya.

Dengan menulis saya semakin mengerti, bahwa kehidupan harus ada arti. Kegiataan menulis kadang menjadi hobi bahkan menjadi sebuah “nafas” dalam kehidupanku. Saya memang berlatih banyak secara sendiri. Berlatih untuk menjadi pelita untuk orang lain. Kadang ada yang bertentangan, bahkan kadang juga ada yang menerima segala arah pikiranku.

Saya senang, kota Nabire juga mengajari saya arti penting cinta. Banyak kenangan di masa pendidikan, dimana harus belajar mencintai dan berusaha menerima cinta. Kadang pacaran di usia sekolah di anggap sebagai hal yang tabuh, memang iya sih, tapi kadang tidak bagiku.

Saya mengenal banyak “teman” pada masa pendidikan. Mereka mengajari saya bagaimana harus mengerti akan cinta. Dan mereka juga mengajari saya untuk mencintai berarti tidak harus memilki. Cinta, rasanya kadang pahit dan kadang juga rasanya begitu manis. Akan teras manis ketika pada masa-masa yang bahagia, dan akan terasa pahit ketika berada pada masa yang begitu sukar.

Banyak “teman-teman” yang turut mempengaruhi kehidupanku. Mereka orang yang berjasa dalam hidupku. Ketika membayangkan semua mereka, hanya teringat terhadap semua kenangan indah dan pahit itu. Rasanya sukar jika harus menyebut nama mereka satu persatu.

Kota Nabire juga mengajari saya tentang arti hidup mandiri. Saya memang tinggal di Asrama. Tetapi bukan berarti semua serba ada. Saya harus berusaha, semua untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semua itu saya lakukan dengan kemauaan dan kerja keras. Hal ini terbukti, walau masih di bangku pendidikan, saya sering kemana-mana, memang sukar untuk di percaya.

Saya semakin mandiri, ketika ayah pergi saat saya berusia 8 tahun. Ibu pergi ketika berusia 13 Tahun. Memang jahat, mereka pergi tanpa pamitan, jika ada tak ada yang pernah memberitahuku. Semua keluargaku merahasiakan kepergiaan mereka hingga beberapa tahun sejak kepergiaan mereka.

Saat kukenang kepergiaan mereka, kadang hanya tangisan yang dapat mengobati semua rindu saya pada mereka. Sejak pertama kali saya harus pergi ke kampung halaman (Intan Jaya, Mbamogo), sejak berpisah saat usia 5 tahun, hanya tangisan yang bisa menahan amarah terhadap mereka, termasuk amarah terhadap keluargaku yang lainnya di kampung halaman.

Ada kedua kakak perempuan saya dan seorang kakak laki-laki, namun kakak saya yang laki-laki saat itu sedang berada di Timika. Memeluk dan mencium hangat mereka. Karena baru pertama kali bertemu sejak perpisahaan itu. Mereka katakan dengan jelas, bahwa mama dan papa telah pergi lama, kenapa kau tak pernah datang lihat, tak perlu saya jawab, kalian bisa pahami arti penting tentang kehidupan ini.

Kepergiaan dari kota Nabire juga turut meninggalkan semua teman-teman dan adik-adik yang telah lama bersama-sama. Sengaja tak ingin berjabat tangan dengan mereka sejak saya mau pergi. Mengapa? Tak ingin menangis lagi jawabannya.

Nabire, memang kota yang menyimpan banyak kenangan. Kota ini kadang di anggap tak ramai dan tak bersahabat, yah, memang benar, karena tak ada Mall, Plaza atau Supermarket besar seperti kota-kota besar lainnya. Tapi aku tetap mencintai kota ini, sampai kapanpun kota ini tetap ku cinta. Berharap bisa kembali, membangun Papua dan kota ini.

Catatan dari Villa Griya Canta Yumana,
Kota Trawas, Surabaya, 17 Juni 2010
Pukul 12:33 Wib

Peran Pemda Dalam Mengembangkan Potensi Wisata di Kabupaten Nabire

Pendahuluan

OCTHO- Potensi wisata sebuah daerah, jika dikelolah dengan sebaik-baiknya sudah tentu akan memberi keuntungan bagi warga masyarakat sekitarnya. Selain itu juga, akan memberikan pemasukan bagi kas daerah, dalam hal ini potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Nabire sendiri. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menjadikan potensi wisata sebagai sumber pemasukan terpenting, dan hal itu terbukti memberikan keuntungan besar.

Kita bisa lihat contoh dari Provinsi Bali, salah satu daerah di Indonesia yang mengembangkan prinsip ini, dimana menjadikan objek wisata sebagai modal utama dalam menghidupi masyarakat, pemerintah serta mengembangkan SDM yang ada disana. Komitmen dan tekad mereka berjalan dengan baik, hingga dalam beberapa tahun terakhir, provinsi ini merupakan salah satu daerah yang memberikan devisa (pemasukan) tertinggi bagi Negara Indonesia (Rp2,2 triliun selama tahun 2008). Ini sebuah prestasi gemilang, yang sukar di torehkan daerah manapun di pulau jawa.


Selain itu, dengan kemampuan dalam mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Bali, membuat Negara Indonesia sebagai sebuah tempat yang patut untuk dikunjugi. Lihat saja catatan kunjungan turis Mancanegara di Indonesia, dimana meningkat drastic, walau beberapa kali Indonesia pernah di landa bom.

Dengan melihat contoh keberhasilan yang di capai Provinsi Bali memberikan sebuah pertanyaan kepada kita, bagaimana dengan potensi wisata daerah lain di Indonesia? Bagaimana dengan daerah Papua? dan terlebih khusus bagaimana dengan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Nabire.

Apakah potensi wisata di Kabupaten Nabire perlu di kembangkan? Atau sebaliknya tidak perlu di kembangkan. Ataukah kita menunggu SDM yang menjanjikan, setelah itu seraya bertindak mewujudkannya. Hal ini juga agar ada pemberdayaan masyarakat setempat, terbukanya lapangan pekerjaan, serta masuknya investor asing yang memberikan kontribusi bagi pembangunan Kabupaten Nabire, khusus dalam mengembangkan potensi wisata yang ada.

Dalam uraian di bawah ini saya akan lebih spesifik bahas bagaimana gambaran umum Kabupaten Nabire, potensi wisata yang patut dikembangkan, serta peran pemerintah dalam mewujudkan sebuah pekerjaan itu, agar memang betul-betul bermanfaat.


Gambaran Umum Kabupaten Nabire

Wilayah Kabupaten Nabire berada di pesisir teluk cenderawasih yang secara geografis terletak pada posisi antara 134°,35′–138°,02′ Bujur Timur dan 2°,25′ – 4°,15′ Lintang Selatan. Luas Wilayah Kabupaten Nabire 15.350 Km2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut sebelah utar Teluk Sarera, Kabupaten Yapen dan Kabupaten Waropen, Sebelah Selatan, Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Mimika, Sebelah Timur, Kabupaten Waropen dan Kabupaten Paniai, Sebelah Barat, Kabupaten Teluk Wandama dan Kabupaten Kaimana.

Wilayah Kabupaten Nabire memiliki topografi datar diperkirakan 47% dari luas wilayah terletak menyebar pada distrik Yaur, Wanggar dan Napan. Sedangkan daerah berbukit diperkirakan 53% tersebar pada distrik–distrik Sukikai, Uwapa, Mapia, Moenemani dan Ikrar.

Topografi dan keadaan formasi geologisnya sangat bervariasi dan berpengaruh terhadap pembentukan dan jenis tanah. Keadaan ini dapat digambarkan sebagai berikut, Rawa, terdapat di sekitar aliran Sungai Wapoga, Kali Mangga dan Kali Bumi, merupakan daerah-daerah deposit kuarter yang menerima endapan sungai menutup batuan sedimen (alluvium), tersier dan pleistosin. Tumbuhan khas di lokasi ini antara lain sagu (metroxsilon spp) dan species lainnya.

Dataran Tanah Kering, jenis tanah yang menonjol di dataran ini antara lain organosol dan alluvium yang sering ditemukan di dataran tinggi. Daerah pantai sekitar Nabire antar lain Kali Sanggar dan Kali Nabarua terdapat jenis tanah regosol, lanhumick clay, alluvial dan podzolik, pada dataran ini terdapat hutan tropis basah. Dataran Tinggi, Lereng dan Bukit, bahan induk batuan sedimen tersier dan pleistosin tanah kapur. Janis tanah yang terdapat antara lain: podzolik merah, hidromorf kelabu, merah sampai kuning.

Iklim, Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian letak dimana setiap kenaikan 100 m dari permukaan air laut mengalami penurunan rata-rata 0.60 ºC. Akibat topografi yang bervariasi di dataran tinggi maka suhu udara di Kabupaten Nabire berkisar antara 20 ºC–32 ºC, dengan suhu maksimun 34ºC. Wilayah ini beriklim tropis basah dengan curah hujan hampir merata sepanjang tahun.

Jumlah penduduk Kabupaten Nabire menurut data Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nabire sampai dengan akhir tahun 2005 sebanyak 172.315 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 92.476 jiwa dan perempuan sebanyak 79.839 jiwa. Tahun 2004 terjadi peningkatan penduduk sebanyak 8.510 jiwa (jumlah penduduk tahun 2003 sebanyak 160.882 jiwa) atau meningkat sebesar 2,3%.

Meningkatnya jumlah penduduk tersebut disebabkan adanya kelahiran dan masuknya penduduk dari luar Kabupaten Nabire yang setiap tahun semakin meningkat. Mayoritas penduduk Kabupaten Nabire memeluk agama Kristen Protestan dan Katolik, kemudian Islam, sedangkan pemeluk agama Hindu dan Budha relatif sedikit jumlahnya.

Mata pencaharian penduduk asli Kabupaten Nabire pada umumnya adalah peramu, bertani, berburu hewan dan sebagai nelayan. Sumber daya manusia di Kabupaten Nabire dapat dikatakan masih rendah kualitasnya, akibat rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan masyarakat. Sedangkan dari segi kuantitas, sangat potensial sebagai modal dasar pembangunan daerah.


Sumber Daya Alam


Sumber daya alam yang tersebar di Kabupaten Nabire sangat potensial antara lain terdapatnya sumber daya hutan tropis yang kaya akan berbagai jenis flora seperti Arucaria, Librocedus, Grevika, Eucalyptus, Metrosideros, Trisnatia, Melakuca, Darydium, rotan, damar, sagu, kayu lawang, masohi dan gaharu. Sedangkan fauna terdiri dari berbagai jenis mamalia, unggas dan reptilia seperti babi, rusa, kuskus, kasuari, cenderawasih, kakatua, nuri, itik, buaya, biawak, berbagai jenis ular dan sebagainya.

Disamping itu, terdapat juga hutan mangrof, sumber daya kelautan, pertambangan, dan bahan-bahan galian antara lain marmer, mika, minyak bumi, emas, jenis tambang galian C dan lain-lain.

Potensi sumber daya alam, tersebar di berbagai distrik sebagai berikut, Distrik Nabire: marmer sebanyak 50.000.000 m3, minyak bumi, koalin, lempung, lumpur dan nikel serta emas. Distrik Uwapa : terutama emas yang saat ini dijadikan lokasi penambangan rakyat seluas 30 km2, bahan galian tambang lainnya adalah kaolin dan batu gamping. Distrik Yaur, marmer sepanjang 1 km volumenya sekitar ratusan juta m3 dan ditemukannya kandungan emas serta terkenal dengan kawasan Taman Laut Teluk Cenderawasih seluas 566.500 Ha.

Distrik Napan: minyak bumi, batubara dan emas serta potensi dataran rendah yang luas dan subur untuk pengembangan tanaman pangan dan tambak rakyat seperti budidaya udang, kepiting dan ikan bandeng. Distrik Mapia: batubara dan emas serta potensi perkebunan kopi, kakao dan kelapa sawit. Distrik Kamu: dataran Lembah Kamu yang subur dan luas berpotensi untuk pertanian tanaman produksi, terutama kopi yang saat ini terkenal sebagai penghasil Kopi Arabica (Kopi Moanemani) dan coklat.

Distrik Ikrar: emas dan lahan pertanian kopi, kakao dan kelapa sawit serta hutan produksi. Distrik Sukaikai: emas dan lahan pertanian kopi, kakao dan kelapa sawit serta hutan produksi. Distrik Wanggar: emas dan lahan pertanian khususnya sawah. Distrik Siriwo: emas dan lahan pertanian kopi, kakao, kelapa sawit serta hutan produksi.

Apabila seluruh potensi sumber daya alam ini dikelola dan dieksploitasi, akan memberikan nilai ekonomi yang tinggi dan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah untuk membiayai pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.


Potensi Wisata

Setelah membaca gambaran umum Kabupaten Nabire serta sumber daya alamnya, bisa kita beri kesimpulan, bahwa sangat banyak potensi yang terkandung didalamnya. Dan semua itu kalau saja dikelola secara baik, akan memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi dan sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah untuk membiyayai pembangunan demi kesejahteraan masyakat Kabupaten Nabire yang ada.

Sekedar pengetahuan penulis, ada beberapa tempat wisata di Nabire yang dapat di kelolah untuk pemasukan bagi daerah dan pemerintah. Namun kadang diabaikan oleh pemerintah daerah, padahal potensi-potensi seperti itu perlu pengembangan yang lebih khusus. Dan ada beberapa tempat yang penulis katakan layak dikelola oleh pemerintah daerah Nabire.

Pertama; wisata pantai Gedo di daerah Sanoba. Sejak keberadaannya pantai ini, sudah banyak wisatawan yang berdatangan, baik dari Nabire maupun luar Nabire. Pemandangan, indahnya pantai serta situasi yang menyenagkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun sampai saat ini, tidak banyak yang berpikir untuk mengelolahnya untuk menjadi tempat wisata yang lebih besar, dimana memberi pemasukan penting bagi daerah dan masyarakat.

Kedua; wisata pantai Yamari yang ada di Siriwini. Sama halnya dengan pantai gedo, tempat wisata ini juga telah banyak di kunjungi. Lebih banyak orang ke tempat wisata ini untuk melepaskan kelelahan selama masa kerja. Potensi pemasukan sangat besar, namun lagi-lagi pemerintah daerah mengabaikannya.

Ketiga: wisata Pulau Harlem di kepulauan Mor. Sejak keberadaannya tempat wisata ini, sudah banyak wisastawan yang mengunjunginya. Tempat wisata ini bukan di kunjungi oleh wisatawan lokal serta nasional saja, namun sempat dikunjungi juga oleh wisatawan mancanegera, diantaranya dari; Korea, China, Amerika, dan Polandia. Namun lagi-lagi pemerintah mengabaikan peluang itu.

Keempat; Tempat wisata pantai Maf yang terletak di jantung kota Nabire. Sudah menjadi pemandangan umum, ketika dapat kita saksikan banyak orang yang selalu mengunjungi tempat ini. Pantainya yang indah, tempat duduk yang asri, serta pemandangan umum yang menjanjikan menarik minat banyak orang untuk mengunjunginya. Namun secara umum juga tempat wisata ini di abaikan pemasukannya oleh pemerintah daerah.


Peran Pemerintah


Semua potensi wisata yang ada di Kabupaten Nabire akan dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat, serta pemerintah daerah ketika ada kemauan keras untuk mengembangkannya. Dalam hal ini dari Dinas Pariwisata yang ada di Kabupaten Nabire sendiri.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata harus serius, komitmen, serta bersepakat penuh untuk mengembangkan setiap potensi wisata yang ada. Karena ini bagian terpenting dari pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan pendapatan daerah yang lebih menjanjikan. Ada beberapa langkah yang Dinas Pariwisata harus lakukan untuk meningkatkan, serta menggunakan kelebihan potensi wisata.

Pertama: mengadakan penilitian serius terkait potensi wisata yang nantinya akan memberikan manfaat kepada rakyat umum. Penilitian ini juga harus melibatkan masyarakat umum, serta pemilik hak ulayat sendiri, karena mereka yang mengetahui situasi, serta kelebihan yang ada.

Kedua; melakukan perencanaan yang matang dalam mengagaskan hasil penilitian itu. Dimana perencanaan yang baik, serta akan memberikan manfaat di hari-hari kedepan untuk mewujudkan potensi wisata Kabupaten Nabire yang nantinya akan memberikan manfaat besar bagi rakyat dan pemerintah daerah.

Ketiga: melakukan kerja serius sesuai dengan hasil penilitian serta hasil perencanaan yang ada. Sudah tentu hasil penilitian dan perencanaan yang di kembangkan untuk mendongkrak potensi wisata betul-betul harus berguna bagi rakyat umum. Ketika ketiga langkah ini dikerjakan dengan tidak mengabaikan prinsip kebersamaan, maka akan memberikan hasil yang sangat baik bagi semua instansi.


Penutup

Maju mundurnya potensi wisata di Kabupaten Nabire tergantung segala kebijakan, komitmen, serta peran kerja yang pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten lakukan. Dan yang perlu di ingat, segala kebijakan, serta keputusan yang di buat, harus memberi manfaat penuh bagi warga masyarakat setempat.

Banyak potensi wisata yang ada di Kabupaten Nabire bukan sebuah ukuran menilai kesejahteraan serta kemakmuran masyarakat dan Kabupaten Nabire. Semua tergantung dari komitmen, kebersamaan serta kemauan kerja dari semua instansi terkait, terlebih khusus pengambil kebijakan.

Ketika tidak ada tindakan nyata yang pemerintah daerah lakukan untuk menyelamatkan aset daerah (potensi pariwisata) jangan pernah bermimpi, rakyat dan daerahnya akan maju. Semua butuh praktek, teori yang panjang lebar tanpa tindakan nyata, hanya menghasilkan perselisihan dan perdebatan yang panjang.

Dengan tulisan yang cukup singkat ini, semoga pemerintah daerah di Kabupaten Nabire insaf, bahwa potensi yang sudah saatnya, dan harus di kembangkan untuk kemakmuran dan kepentingan semua rakyat di Nabire. Jangan sekali-kali mengembangkan potensi wisata yang ada untuk kepentingan pribadi semata, dampaknya akan lebih menghancurkan daerah Nabire di masa-masa mendatang.


Daftar Pustaka

- Data dari BPS Kabupaten Nabire
- Data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Nabire
- Data dari Dinas Pertambangan Kabupaten Nabire
- http://hariansib.com/?p=60318
- http://nabire.wordpress.com/2008/08/20/kota-nabire/
- http://wikipedia.com






headerr

Pleno Sempat Ricuh, Dua Kandidat Lolos Putaran Berikut

OCTHO- Bertempat di gedung serba guna, Guest House Nabire, Sabtu (10/10), KPUD Kabupaten Nabire melakukan pleno sekaligus membacakan hasil pleno dalam menentukan calon bupati dan calon wakil bupati yang akan lolos pada putaran berikutnya.

Awalnya pleno penetapan ini di rencanakan di mulai pada pukul 15.30 wit, namun karena berbagai alasan, serta halangan, KPUD Nabire menundanya hingga pukul 18.00 wit. Ini sebuah kesalahan kecil yang sebenarnya tidak perlu di lakukan, mengigat agenda Negara yang sedang di kerjakan.

Setelah menunggu kesiapan, serta hasil kesepakatan KPUD Nabire berserta Eksekutif dalam hal ini penjabat Bupati Kabupaten Nabire, maka hasil pleno yang di susun dalam sebuah berita acara segera di bacakan oleh Ketua KPUD Nabire, Yusuf Kobepa, SH.

Ketika akan membacakan hasil pleno yang di susun dalam berita acara, sempat mendapat berbagai intruksi dari berbagai peserta, saksi, serta ketua tim kandidat yang mendapat undangan untuk hadir. Dan semua intruksi yang di berikan itu membuat KPUD Nabire harus berpikir ulang dalam penetapan calon kandidat yang akan lolos pada putaran berikutnya.

Intruksi yang membuat hadirin tersentak, bahkan kaget adalah yang datangnya dari masyarakat pesisir pantai, dimana meminta agar bupati dan wakil bupati haruslah putra daerah dari Nabire. “kami minta dengan hormat KPUD Nabire harus mengambil kebijkan, dimana menetukan serta menetapkan orang asli pesisir untuk duduk di kursi ini. Kalau tidak, kami akan boikot pilkada Nabire” demikian seruan singkat dari perwakilan masyarakat pesisr yang membacakan lima butir pernyataan.

Atas usulan Panwas Pilkada nabire, Martinus Makay SH, maka KPUD Nabire meminta waktu 10 menit kepada calon, hadirin serta undangan dalam menyelesaikan tuntutan serta pernyataan yang mereka lontarkan. “kami minta waktu kurang lebih 10 menit untuk menentukan hal ini, saya akan konsultasi dengan KPUD Provinsi dan KPU Pusat” ungkap Ketua KPUD Nabire Yusuf Kobepa, SH sembari meninggalkan ruangan pertemuan.

Ikuti Aturan

Setelah beberapa saat KPUD Nabire melakukan pembicaan yang mana sempat cukup alot juga, akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu segera tiba juga. Dimana beberapa anggota KPUD bersama ketua telah mengambil tempat di depan, dan siap untuk membacakan hasil pleno yang telah mereka tetapkan.

Pada intinya KPUD Kabupaten Nabire tetap berprinsip, dimana akan mengikuti segala aturan yang telah di tetapkan oleh undang-udang. “kami KPUD sudah mengatakan, bahwa kami akan tetap berpegang pada aturan yang berlaku di Negara ini. Dan saya kira bapak/ibu yang hadir dalam ruangan ini telah mengerti hal itu” pungkas ketua KPUD Kabupaten Nabire sebelum membacakan hasil pleno.

Sesuai kesepakatan kami, maka dari KPUD Kabupaten Nabire tetap memutuskan untuk tetap mengikuti peraturan yang telah ada. “ dengan demikian, kami memutuskan untuk pasangan nomor urut 01 atas Isaias Douw dan Mesakh Magai dan Pasangan nomor urut 08 atas nama Ayub Kayame, dan Yosina Manuawarun untuk lolos pada putaran yang selanjutnya” tegas ketua KPUD Nabire, Yusuf Kobepa di iringi dentuman palu tanda persetujuan.

Walau mendapat berbagai tanggapan miring alis negative dari para saksi serta hadirin dari kandidat yang tidak lolos, namun keputusan KPUD tidak bisa di kembalikan lagi. “kalau mau gugat supaya keputusan KPUD di batalkan, silakan ajukan keberatan kepada Mahkama Konstitusi, tapi dengan syarat apa yang menjadi materi gugatan harus jelas”, pungkas ketua KPUD Nabire, ketika memberikan penjelasan kepada wartawan.

Dalam agenda KPUD Nabire, putaran dua akan berlangsung pada tanggal 30 November, itupun kalau tidak terhambat oleh berbagai hal. "putaran kedua bisa di pastikan tanggal 30 bulan depan, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya," pungkas salah satu anggota KPUD Nabire.

Sampai berita ini di turunkan, masih banyak warga yang tidak tau kapan waktu pelaksanaan coblos putaran kedua. Kita tunggu saja, bagaimana jadi pilkada Nabire kedepan, semoga memberi manfaat untuk masyarakat akar rumput. Dan pemimpin terpilih nanti bisa mengarahkan Kabupaten Nabire untuk menjadi daerah yang lebih baik lagi.

Sumber Gambar: http://pogauokto.blogspot.com/2009/01/pilkada-nabire-tertunda-dosa-kpud.html





headerr