Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kronologis penembakan terhadap mahasiswa lani jaya di Jayapura - West Papua.






WEST PAPUA---Kira2 jam 11 malam penghuni asrama atas nama merianus yigibalom karena lapar pergi ke asrama mimika kerena disitu ada warung makan , setelah makan dia kembali pulang dia sendiri jadi pas pertigaan jalan naik ke asrama lannyjaya ada dua laki-laki dan dia tidak kenal , satu orang pegang parang dan satu lagi bertanya kepada merianus ," ko dari mana?? , Jawab merianus saya dari sini , dan satu orang yang penggang parang bilang " ko kasih tinggal motor atau anda hilang nyawa" Adik Marianus tidak terima tapi kerena mereka terancam dengan parang ,dia lalu lepas kunci motor dan motor mereka dua tanah dan dia lari ke asrama lannyjaya .
- kira-kita jam Serengan dua belas ,setelah merius cerita kejadian penghadangan tadi kemudian bersama teman-teman penghuni asrama lannyjaya turun kebawah tapi pelaku dua orang itu sudah lari dari tempat kejadian ,kemudian masa dari penghuni asrama cari keluar ke jalan raya perumnas 3.
- masa dari asrama lannyjaya kemudian ketemu satu orang dan dicurigai sebagai pelaku penghadang tadi dan masa menahan dan memukul dia dan menanyakan nama dan dia sebut marga Enembe (saksi lupa nama), masa minta dia untuk menunjukan motor serta satu temannya lagi tapi tiba-tiba dari arah perumnas 3 ada 8 orang yang mau bantu teman enambe tapi karena jumlah masa dari asrama lannyjaya banyak ,kedelapan orang itu lari enam orang lari terus dan dua orang lari menyelamatkan diri di pos polisi perumnas 3.
-Masa menuju pos polisi dan minta agar yang diduga pelaku yang berlindung di pos polisi untuk segeralah dikeluarkan agar masa bisa memukulnya, tapi karena polisi tidak respon permintaan masa akhir masa marah dan mulai lempar batu ke arah pos polisi kurang lebih 5 menit dari situ ada bunyi tembakan peringatan dua kali akhirnya mahasiswa menahan diri dan semua duduk di satu tempat , kira-kira sampai hampir satu jam lebih masa menunggu respon polisi untuk penanganan motor dan yang pelaku pencuri motor ini prosesnya seperti apa? Itu Kira-kira jam 12 malam.
dan masa pada saat itu bersama2 Pak RT dari rusunawa, sewaktu pak RT tanya" adik-adik kepada?"masa menceritakan semua persoalan tersebut kepada pak RT setelah mendengarkan penjelasan masa tersebut pak RT berkomunikasi kepada pihak kepolisian yang berjaga di pos polisi tetapi pihak kepolisian tidak terima ,Setelah bernegosiasi dengan pihak polisi pak RT kembali dan mengatakan kepada masa untuk membubarkan diri karena sudah larut malam,Dan petugas polisi yang berjaga mulai marah dan mengatakan " kenapa bikin kacau di pos ini, mulai memaki masa dari asrama lanijaya dengan makian " anjing,babi,goblok dan lain.
Jam 12 itu polisi yang berjaga di pos polisi perumnas 3 berkomunikasi dengan polresta kota Jayapura 
beberapa menit kemudian datang kepolisian dengan menggunakan dalmas dan bersejatah lengkap mendatangi masa 
Kejadian kedua itu polisi sudah tembak sembarang ada yang keatas ada yang ke arah masa yang lari
- setelah itu kira-kira jam 1 subur
Sewaktu dalmas datang dari arah Abe polisi tidak membunyikan sirene tapi sewaktu menuju masa di perempatan ( putaran taksi perumnas 3) baru mereka membunyikan sirene dan menuju masa dalam kecepatan tinggi ke arah masa yang sedang duduk
polisi mengelilingi masa yang duduk dalam lingkaran karena situasi mulai memanas masa mulai bubar melarikan diri ada yang ke arah uncen ada yang masuk ke arah kompleks perumnas 3 dalam itu kira-kira jam 1 subuh
- Saya posisi lari ke atas yang ke arah perumnas 3 dalam saya tidak tau , sementara pada saat posisi lari ketakutan ada satu teman yang kena tembakan peluruh aparat di sebelah kanan saya balik dan bantu teman yang kena tembak
- yang arah lari ke kamwolker ini dapat tembakan dari belakang dan yang dapat tangkap di tempat masa duduk bentuk lingkaran itu kurang lebih 8 orang
- sebelumya kira- kira jam 12 itu ada korban atas nama Asmel dari masa asrama lanijaya yang menjadi korban dari pemukulan polisi yang bertugas di pos polisi perumnas 3 sewaktu masa mengamuk lempar batu ke pos polisi ada satu teman ini yang dapat tangkap bawah masuk pos baru dapat pukul akibatnya teman mengalami luka di kepala ,
Setelah teman -taman minta untuk dilepas polisi lepas dan ada 6 teman yang melarikan dia ke rumah sakit Dian harapan tapi polisi kemudian 5 orang yang mengantar ini ditangkap oleh kepolisian di rumah sakit Dian harapan dan satu orang ditangkap lagi pada saat membeli obat di apotek yang terletak dekat rumah sakit mereka ditangkap dan diangkut menggunakan mobil dalmas
Jadi yang dapat tahan dari tempat kejadian 8 dan di rumah sakit 5 jumlah : 13 orang 
-++++++++++++++++++++++++++
Situasi pengurus asrama mengunjungi 13 kawan di polresta Jayapura
-----------------------
Amos Wenda pengurus asrama jawbatan sekretaris
- kami pengurus rasa kesal karena ketidak adilan dari polisi yang berkelakuan tidak pri-kemanusiaan yang sudah menembak teman-teman penghuni asrama putra lanijaya sampai ada yang terluka 
Dan juga teman kami dipukul sampai kepalanya luka parah ,itu sempat mendapatkan perawatan medis di jahit di rumah sakit Abe,tapi tidak lama kemudian polisi datang dan menangkap dia bawah dengan dalmas ke polresta sebab itu kami pengurus asrama tidak terima dengan perilaku aparat kepolisian seperti itu
- sekitar jam 11.30 ,hari ini kami cek ke Polresta untuk lihat 14 teman yang dapat tahan , sewaktu kami cek di polresta Jayapura teman-teman semua sementara lagi di interogasi dan kami sempat masuk di ruangan tempat interogasi dan teman kami yang terluka dia sudah rasa sakit sekali tapi dia dipaksa untuk interograsi
Kami sempat manyampaikan masukan kepada pihak kepolisian polresta kota Jayapura agar interogasinya lebih sedikit baik pertimbangannya karena ada juga adik-adik kami yang baru dari pedalaman mereka kesini dan belum tau dengan situasi kondisi di Jayapura agar mereka tidak trauma tapi hal itu tidak diterima oleh pihak kepolisian dan mereka memaksa kita untuk keluar dari kantor Polresta kota Jayapura ,lalu kami keluar dari kantor Polresta tapi teman-teman kami masih lanjut di interogasi akhirnya kami pulang ke asrama untuk ketemuan teman - teman asrama yang sudah menunggu
- Mereka sudah ambil kita punya nomor tapi Sampai saat malam ini belum ada penjelasan dari polresta kota Jayapura terkait teman-teman yang di tahan sampai kapan proses interogasinya, kami akan menunggu sampai besok pagi sesuai waktu interogasi 1x24 jam dana kami akan melakukan langkah-langkah hukum sesuai aturan yang berlaku.
Saksi mata 
1. Urius yigibalom
2. Bujun yigibalom
3. Amos Wenda ( sekretaris asrama lannyjaya)
Nama - nama yang di tangkap sebagai berikut 
1.Nani Kotouki
2.Boka Wenda
3.Kalenus Wenda
4.Mell Wenda
5.Nerianus Kogoya
6.Agus Kossay
7.Habel Yigibalom
8.Alfreton Kogoya
9.Epris Yoman
10. Niles Kogoya
11.Asmel Yigibalom ( Koban pemukulan polisi)
12.Rizki Yigibalom
13.Rendi Wenda
Satu korban kena tembak
Yetron Kogoya / luka kembak di lengan kanan

Pimpinan DPR Minta Usut Pengibaran Bendera Israel di Papua

Sion Kids Center of Papua Memberkati Bangsa Israel di usia ke 70-tahun - lensapapua
Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan meminta pengibaran bendera Israel oleh sekelompok warga di Papua diusut tuntas. Menurutnya, pengibaran bendera Israel itu bertentangan dengan semangat konstitusi dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945 yang secara tegas menolak setiap bentuk penjajahan di muka bumi ini.
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (Foto: Dok. DPR)

"Israel dengan nyata dan gamblang telah melakukan penjajahan di Palestina. Dan semangat Indonesia dengan sangat tegas menolak penjajahan dan mendorong terciptanya kemerdekaan di tanah Palestina. Semangat itu tidak boleh tercoreng oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Aparat penegak hukum harus mengusut aksi itu," tegas Taufik dalam keterangan tertulis, Jumat (18/5/2018).

Meski ada dalih tidak ada kepentingan politik dan hanya tradisi, Wakil Ketua Umum PAN itu menegaskan bahwa tindakan itu bertentangan dengan sikap dan semangat Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Aksi itu berpotensi memunculkan polemik dan kontroversi serta menodai kerukunan sesama warga negara. Apalagi baru-baru ini Indonesia sedang Siaga I terhadap aksi terorisme.

"Kita sedang berkabung terhadap aksi terorisme. Jangan sampai aksi pengibaran bendera Israel itu malah memecah belah bangsa kita dan menyebabkan Indonesia semakin berkabung. Sikap ini harus diusut tuntas. Termasuk perjuangan kita dalam menolak kedubes Amerika Serikat di Yerusalem juga tidak boleh berhenti," tegas Taufik.

Baca juga: Pengibaran Bendera Israel di Papua


Taufik menilai sikap dan semangat Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina selalu diupayakan maksimal. Misalnya saja ketika DPR dan pemerintah dalam setiap forum internasional kerap mengangkat isu kemerdekaan Palestina sebagai topik pembahasan. Aksi damai pun dilaksanakan oleh masyarakat, misalnya melalui aksi 115 yang belum lama ini digelar di Jakarta.

"DPR, pemerintah, dan masyarakat kita selalu mengupayakan kemerdekaan Palestina melalui berbagai kesempatan. Sikap Indonesia sangat jelas mendukung kemerdekaan Palestina. Pengibaran bendera Israel ini dikhawatirkan mengganggu semangat kita mendukung Palestina, dan menjadi tindakan yang mencederai sikap kita kepada Palestina," tegas Taufik.

Sebelumnya, Kapolda Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan konvoi ini dilakukan oleh komunitas Sion Kids. Menurutnya, mereka menggelar acara peringatan budaya yang sudah menjadi tradisi. "Pengibaran bendera Israel di Jayapura peringatan dari komunitas Sion Kids, ini komunitas masyarakat. Itu sudah seperti tradisi dan merupakan budaya," ujar Boy.(mul/ega).

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4027385/pimpinan-dpr-minta-usut-pengibaran-bendera-israel-di-papua

Ideologi Kematian Keluarga Teroris

Aksi teroris yang dilakukan oleh satu keluarga bisa jadi baru pertama kali di dunia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jakarta - Metode kinship atau rekrutmen melalui jalur keluarga untuk aksi terorisme bukan barang baru. Bom Bali 2002 dilakukan oleh trio bersaudara: Ali Ghufron, Amrozi and Ali Imron.

Remaja terlibat dalam jaringan teror juga bukan yang pertama kalinya di Indonesia. Beberapa di antara mereka terlibat dalam jaringan ISIS dalam serangan bom Thamrin 2016 dan juga jaringan Bahrun Naim di Solo.

Upaya melibatkan perempuan untuk aksi teror pun pernah dicoba pula oleh jaringan ini dengan merekrut Dian Yulianti Novi, mantan pekerja migran yang dipersiapkan menjadi 'pengantin' di Istana Presiden tahun 2016.


Namun, tiga aksi terorisme dilakukan oleh tiga keluarga sekaligus melibatkan perempuan dan anak-anak dalam rentetan teror di Surabaya, ini adalah fenomena baru yang bisa jadi pertama kali di dunia.

Padahal, berdasarkan foto keluarga yang beredar di berbagai platform media sosial, mereka tampak sebagai keluaga 'normal' dan bahkan kelas menengah.

Sebagai bapak dari dua anak, saya tidak habis pikir: bagaimana mungkin orang tua tega mengorbankan anak-anak mereka sendiri untuk sebuah ideologi? Bagaimana menjelaskan proses radikalisasi mereka?

Untuk memahami peristiwa tragis di atas, barangkali kita bisa meminjam fenomena orang berpindah aliran dalam agama (dari NU menjadi Muhammadiyah), berganti agama (dari Kristen menjadi Muslim atau sebaliknya) atau bahkan meninggalkan agama sekali pun (menjadi atheis).

Artinya fenomena orang berubah keyakinan atau memilih sebuah ideologi tertentu itu merupakan hal lumrah terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Mereka yang melakukannya biasanya melalui sebuah proses yang panjang dan berliku.

Aksi damai digelar untuk mengenang para korban dalam rentetan teror bom yang mengguncang Surabaya pada Minggu dan Senin kemarin. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Biasanya diawali dengan sebuah "pemantik" kejadian yang bersifat subjektif pada diri para pelaku. Dalam bahasa Islam, mereka ini sering disebut mendapatkan 'hidayah' (istilah bahasa Arab yang berarti petunjuk) atau dalam bahasa Inggris disebut 'epiphany' (kesadaran baru).

Dengan analogi tersebut, maka ketiga keluarga yang menjadi pelaku teror ini pada dasarnya pelan-pelan berpindah dari tradisi keberagamaan mainstream (umum) ke dalam tradisi keberagamaan subculture (khusus).

Mereka yang hidup dalam masyarakat subculture ini mempunyai dunia sendiri. Artinya, meskipun mereka ini secara fisik bersama masyarakat umum, namun imajinasi, cara pandang dan pilihan-pilihan hidup mereka sangatlah berbeda.

Dalam tingkat praktis, mereka mempunyai tata cara hidup yang hanya dipahami, diapresiasi dan dipraktekkan oleh mereka sendiri. Oleh karena itu, apa yang masyarakat umum anggap buruk, bisa jadi justru sebaliknya bagi mereka.

Lalu kenapa mereka bisa memilih hidup dalam subculture sementara mereka juga menikmati kehidupan kelas menengah di Surabaya? Apakah ini berarti bahwa marginalisasi itu tidak mesti dalam aspek ekonomi namun juga dalam hal sosial dan politik?

Jika penuturan sahabat SMA dari Dita (bapak dari pelaku bom gereja) yang viral di media sosial itu benar, maka Dita sudah lama merasa tidak 'sreg' hidup dengan tata nilai kemajemukan yang diusung oleh Pancasila.

Ia merasa termarginalkan secara sosial politik bukan secara ekonomi. Baginya, Indonesia ini adalah negara sekuler karena tidak berlandaskan pada syariat Islam dan oleh karena itu harus dilawan.

Nah, ketika mereka hidup dalam subculture seperti ini, ada sebuah sistem politik baru ditawarkan dengan label dagang 'khilafah Islamiyah' dideklarasikan di Suriah oleh Abu Bakar Al Baghdadi pada Juni 2014.

Orang-orang yang sudah muak dengan sistem Pancasila ini lantas tergerak untuk menjadi bagian dari sistem politik baru tersebut. Apalagi mereka mendapatkan angin segar dari suasana politik identitas yang meninggi akhir-akhir ini di Indonesia.

Pada saat yang sama, media sosial menghadirkan sebuah 'hyper reality' kepada mereka melalui video produksi dari ISIS sekelas Hollywood yang menjanjikan kehidupan yang lebih Islami dan terjamin pula secara ekonomi.

Sebanyak 28 orang tewas, termasuk pelaku, dalam tragedi teror di Surabaya, yang diawali bom di tiga gereja. (Reuters/Beawiharta)

Barangkali dalam proses menunggu kesempatan hijrah atau pindah ke Irak dan Suriah ini mereka menjadi bagian subculture Jamaah Anshorut Daulah (JAD)--istilah bahasa Arab yang berarti 'kelompok pembela negara (ISIS)'.

Meminjam istilah Ben Anderson, mereka ini adalah 'imagined community'-nya ISIS. Maksudnya, fisik mereka berada di Indonesia tapi berangan-angan menjadi bagian dari daulah (ISIS). 'Junud daulah' atau para tentara ISIS adalah julukan mereka.

Untuk menunjukkan ke-eksis-an mereka itulah aksi teror itu dilakukan. Mungkin kita bisa pahami jika kemudian yang siap mati itu para lelaki dari pendukung ISIS. Tapi mengapa mereka melakukan aksi ini beramai-ramai satu keluarga?

Kira-kira dialog seperti apakah yang terjadi antara suami kepada istri, bapak dan ibu kepada anak sebelum beraksi?

Apakah mereka mengatakan: "Kita akan bertemu di alam surgawi jika mereka mati dalam aksi bom bunuh diri kita?"

Lalu bagaimana istri dan anak-anak bisa menurut perintah sang bapak? Karena saya curiga peran bapak lebih dominan dalam tradisi subculture ini.

Untuk memahami fase kesiapaan untuk mati ini, kita bisa melihat bagaimana proses bunuh diri masal beberapa cult (sekte aliran sesat) yang melakukan bunuh diri massal seperti pada kasus sekte David Koresh di Texas, Amerika Serikat atau sekte Ordo Kuil Matahari (Solar Temple) di Swiss dan Kanada.

Meskipun mereka tidak melakukan tindak terorisme kepada orang lain yang tidak berdosa untuk mencapai tujuan politik, namun ada kemiripan dalam hal cara pandang. Mereka sama-sama meyakini bahwa kehidupan dunia ini sudah sangatlah rusak dan percaya bahwa ada sebuah kehidupan yang lebih setelah kematian mereka.

Cara pandang yang menekankan kehidupan akhirat secara berlebih dan menafikan pentingnya merayakan kehidupan dengan cinta dan kasih kepada sesama ini ternyata bisa membuka celah masuknya teologi kematian seperti yang diyakini oleh tiga keluarga pelaku teror di Surabaya itu.

Ironisnya, sebaran ideologi kematian ini dirayakan dan dielu-elukan secara masif dalam masyakarat subculture ini melalui jaringan media sosial mereka baik yang terbuka seperti Facebook, Twitter, Instagram atau yang tertutup seperti Telegram.

Jelas ini ancaman keamanan yang serius di Indonesia, apalagi negara kita akan menjadi tuan rumah ajang olah raga dunia, ASIAN GAMES.

Bisa jadi reputasi kita sebagai negara yang aman runtuh jika kita sebagai bangsa tidak menjadikan ideologi mengerikan ini sebagai musuh bersama.

Ironisnya masih ada ribuan orang yang yakin bahwa atror yang terjadi di Surabaya ini hanyalah "permainan keji para inteljen", "pengalihan isu", "ternak teroris" dan ungkapan negatif lainnya.

Oleh karena itu, menurut saya, langkah awal kita menyelesaikan masalah ini adalah mengakui dengan terbuka dan jujur bahwa ada sebagain dari saudara-saudara kita ini terpesona dan memilih hidup menjadi bagian subculture masyarakat yang memuja teologi kematian yang menggerikan ini. Wallahu a'lam. (stu)

Noor Huda Ismail
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian dan kandidat PhD Politik dan Hubungan Internasional Monash University, Melbourne.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com

Jangan Jadikan Papua Tempat Bertempur!

JAKARTA - Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie, meminta pemerintah tidak menjadikan Papua sebagai tempat bertempur.
"Tolong jangan jadikan Papua tempat bertempur, tapi berikan kami kedamaian," kata Jimmy di Ruang Pimpinan DPD, Jakarta, Jumat (22/2/2013).
Wakil Ketua DPRD Papua Barat Jimmy Demianus Ijie, Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, dan Wakil Ketua DPD La Ode Ida Jimmy, saat menggela konferensi pers soal keamanan Papua, di Ruang Pimpinan DPD, Jakarta, Jumat (22/2/2013).

Jimmy menuturkan, rakyat Papua belum pernah merasakan kemerdekaan Indonesia. Yang ada, papar Jimmy, nyawa warga Papua terus melayang.

Menurut Jimmy, setiap perayaan HUT Indonesia pada 17 Agustus, warga Papua merasa belum merdeka.
"Warga Papua merayakan kemerekaan Indonesia, bukan kemerdekaan mereka," ucap politisi PDI Perjuangan.
Jimmy pun meminta pemerintah membuka dialog dengan warga Papua, agar Papua bisa merasakan kedamaian.
"Semua orang Papua mau merdeka. 
Tapi, Apakah mau berpisah dari NKRI? Tidak! Saya pencinta NKRI, kami garda NKRI. Kami mau merdeka dari kemiskinan, dan merdeka untuk mengurus tanah kami," tegasnya. (*)

Sumber : TRIBUNNEWS 
-----------------------------------------------------------------------------------------

Itu menurut mereka yang saat ini ada diposisi-posisi strategis didalam struktur pemerintahan indonesia. Berbeda dengan Rakyat Papua pada umumnya yang akan setia dan tetap memperjuangankan kemerdekaan bagi Bangsa Papua.

 Kutipan dari situs resmi Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka

Notes:
TPN-OPM anggap bahwa semua orang Indonesia yang telah dan sedang cari makan dan mencuri kekayaan orang asli Papua adalah penjajah dan Musuh Rakyat bangsa Papua Barat. Dengan dasar itu, TPN-OPM siap membersihkan secara menyeluruh dari tanah leluhur bangsa Papua.

TPN-OPM juga memperingatkan kepada orang Melayu Indonesia yang ada di Papua segera gulung Tikat dan pulang kampung, karena TPN-OPM siap melaksanakan Revolusi Tahapan dan Revolusi Total.

Demikian pernyataan TPN-OPM atas insiden penembakan terhadap anggota TNI/POLRI oleh TPN-OPM dibawah Comando Gen. Goliath Naman Tabuni. 

Terima kasih atas perhatian Anda.

 Selengkapnya di : WPNLA

Politisi PKS minta Densus 88 diterjunkan ke Papua

Aboebakar Alhabsy
JAKARTA  - Anggota Komisi III DPR Aboebakar Alhabsy meminta Kapolri Jenderal Timur Pradopo menurunkan Detasemen Khusus 88 Antiteror ke Papua. 

Permintaan Politikus PKS ini berkaitan dengan penembakan yang berakibat delapan anggota Tentara Nasional Indonesia gugur dalam dua peristiwa penyerangan oleh kelompok teroris bersenjata di tempat berbeda di Papua, Kamis (21/2) seperti dilansir JPNN.
“Saya turut berbela sungkawa dengan meninggalnya delapan prajurit TNI di Papua, mereka adalah putera terbaik bangsa yang mengabdi hingga titik darah penghabisan. Saya minta Kapolri turunkan Densus 88 ke Papua,” kata Aboebakar, Kamis (21/2) malam.

Dia beralasan Densus 88 Antiteror harus turun karena peristiwa ini adalah teror yang nyata terhadap kondisi keamanan. Aboebakar menegaskan, penyerangan terhadap aparat keamanan adalah bentuk teror yang tidak bisa dianggap remeh. “Saya yakin Densus mampu menangani persoalan ini,” katanya.
Aboebakar mengatakan selama ini Densus 88 telah berpengalaman menggulung jaringan teroris internasional. Karenanya kata dia,  sudah tepat bila mereka diterjunkan ke Papua. “Mereka (Densus 88) punya kompetensi yang cukup, sudah banyak teroris yang mereka tembak mati,” kata dia.
Lebih jauh dia mengatakan, jika kelompok penyerang di Papua hidup berdampingan dengan masyarakat, diyakini Densus dan BNPT bisa mengatasinya. “Mereka sudah biasa menyisir dan memilah mana teroris dan mana masyarakat sipil biasa,” paparnya.
Aboebakar  berharap berharap kondisi Papua bisa segera pulih seperti sedia kala, sehingga masyarakat bisa hidup dengan aman dan nyaman tanpa gangguan teror. (bilal/arrahmah.com)
Sumber  : Arahmah
Penyisiran Aparat Warga Mengungsi

Penyisiran Aparat Warga Mengungsi

RATUSAN MASYARAKAT TIGINAMBUT & SINAK MENGUNGSI

Puncak Jaya & Sinak Tegang, Rakyat Tak Aman dan Terancam Hak Hidupnya


Pucak Jaya- Terkait Penembakan yang menewaskan 8 Anggota TNI, 21/2/2013, kini ratusan masyarakat pun mengungsi dari Tiginambut dan Sinak. Pengungsian slalu dilakukan oleh rakyat Papua, ketika kekerasan terjadi di daerah, di mana mereka tinggal, karena, situasi tersebut, slalu dimanfaatkan oleh TNI/Polri untuk melakukan penyisiran terhadap warga sipil, di sekitar daerah kejadian. Pungungsian itu dilakukan sebagai upaya penyelamatan diri dari intimidasi atau pembunuhan atas penyisiran yang dilakukan aparat keamanan, atas ketidak sanggupan mereka menangkap atau mengejar pelaku, sebagai mana, hal itu slalu terjadi berulang-ulang dari awal pencaplokan Papua ke dalam NKRI hingga kini.

Menurut keterangan saksi di lapangan, Y/P dari Tiginambut dan V/T dari Sinak, Rakyat saat ini sedang mengungsi jauh dari kejadian, yang jauh dari Kecamatan Tiginambut dan Sinak, sebagai upaya penyelamatan diri. Y/P mengawatirkan ada korban saat pengungsian. Menurut saksi mata, situasi di Puncak Jaya dan Sinak sampai saat ini masih tegang. Sementara menurut Koordinator NAPAS, Marthen Goo, Pelakunya masih simpang siur. Apakah benar TPN (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) yang melakukannya, atau ada pihak tertentu. Karena jika dilakukan oleh TPN, pasti diikuti dengan pernyataan mereka terkait alasan penembakan. Jika itu dilakukan oleh TPN, itu merupakan perlawanan mereka atas tuntutan keinginan Merdeka, atas proses pembunuhan yang terus dilakukan oleh Negara Indonesia melalui kekerasan dari awal integrasi hingga saat ini. Penembakan ini sebagai protes terhadap Negara dan dunia, atas pencaplokan dan kekerasan yang terus dilakukan Negara. Semua pihak harus dewasa melihat hal ini. Marthen juga membantah pernyataan-pernyataan petinggi Militer Indonesia terkiat rakyat sipil bersenjata. Menurut Marthen, di Papua itu tidak ada rakyat sipil bersenjata. Yang pegang senjata di Papua itu hanya TNI/POLRI, TPN (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat), dan Intelijen. Pernyataan Rakat Sipil bersenjata itu hanya untuk melegitimasi dilakukannya penyisiran di kehidupan rakyat sipil, yang justru menjadi peluang pembantaian dan pembunuhan rakyat sipil, sebagai upaya kelegalan kekerasan. Dan ini tidak benar, sehingga hal itu harus diluruskan. Marthen mengkawatirkan, pernyataan rakyat sipil bersenjata hanya segabai legalitas untuk dilakukannya pembantaian terhadap rakyat sipil, ketika Aparat tidak mampu mengejar pelaku.

Terkait peristiwa itu, Marthen Goo memintah, melalui kasus ini, sesungguhnya semua pihak harus mencari Solusi, bukan saling salah menyalahkan. Jika melalui kekerasan ini, dilakukan represif yang besar, justru akan mempersulit persoalan, dan akan menambah korban dan dikawatirkan akan meluas. Jika perundingan atau Dialog bisa menjadi sarana, semestinya Negara mau buka diri, bukan Negara justru melakukan kekerasan terus menerus di Papua. pada saat yang sama, Marthen juga menghimbau pada semua tim Independen yang pro kemanusiaan dan para simpatisan, untuk membantu memonitoring kasus kekerasan di Puncak Jaya dan Sinak, serta bersama untuk dilakukannya Advokasi agar kekerasan di Puncak Jaya tidak membias dan meluas pada rakyat sipil tak berdosa. (***BIKO***)

Sumber   : NAPAS

Stop Kekerasan, Sejarah Harus DIBuka

Orang yang mengalami rasa takut (terhadap perang lain) karena telah berbohong, biasanya akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama. Jadi setiap kebohongan memiliki kecenderungan untuk melahirkan kebohongan baru. Kelihatannya hal serupa juga berlaku dalam tindakan kekerasan. Ketika sekelompok orang memilki kekuasan atas kelompok yang lainya atau suatu bangsa atas bangsa lainya dengan jalan kekerasan(termasuk pembunuhan),tidak mustahil bangsa yang memperoleh kekuasaan melalui kekerasan tersebut akan menjaga kelanggengan kekuasaannya dengan cara memelihara kekerasan sebagai sarana mempertahankan hegemoninya terhadap bangsa yang ia kuasai sehingga bangsa yang dikuasinya kerapkali harus mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara mempertahankan diri melalui kekerasan pula. 
Terhadap itu, saya berpikir : 
Papua mengalami hal itu. Saya meyakini,kekerasan yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok (dari bangsa Papua) terhadap kelompok YANG diyakini sebagai musuhnya adalah sebagai usaha mempertahankan eksistensi diri dan bangsanya dari serentetan kekerasan yang pernah ditujukan dan membungkam bahkan terkesan "menghancurkan) individu maupun kelompok dari bangsa Papua pada masa sebelumnya. Jika inilah yang terjadi, maka sudah sepantasnya sejarah Papua dibuka kembali,dilihat secara objektif dengan sikap rendah hati dan menerima kesimpulan yang logis dari ke-objektif-an itu dan memutuskan untuk bertindak secara tepat dan proporsional sesuai kesimpulan itu dan bukanya melakukan manipulasi terhadap fakta sejarah dengan cara menyederhanakan kekerasaan yang terjadi sebagai sebuah konflik biasa yang perlu direkonsiliasi agar dapat menyebut daerah dimana terjadi konflik antara yang menguasai dan dikuasi sebagai ZONA damai! 

Oleh : Agus Mofu

Video Kekerasan yang pernah terjadi dan dilakukan oleh Aparat.



--------------------------PH----------------------------------- 
Terus kobarkan Semangat Perlawanan sampai Kebebasan Sejati Tercapai.

15 Anggota TNI Tertembak Ditangan Tentara Pembebasan Papua

TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL -ORGANISASI PAPUA MERDEKA BERTANGGUNGJAWAB ATAS PENEMBAKAN TERHADAP 13 ANGGOTA TNI DI SINAK DAN 2 ANGGOTA TNI DI TINGGINAMBUT PUNCAK JAYA PAPUA

 Untuk info lebih lanjut silahkan anda baca di situs resminya :

Klik  WPNLA 

Atau di :

KAROBA NEWS 

 --------------------------------------------------------------------

Jika persoalan politik Papua masih dianggap sepele dan urusan internal indonesia maka akan terus ada korban jiwa berjatuhan oleh karena itu maka solusi terbaik adalah segera gelar dan buka ruang untuk PERUNDINGAN ANTAR NEGARA PAPUA DAN DAN NEGARA INDONESIA yang juga didalamnya harus dilibatkan PBB dan Negara-Negara yang punya peran dan andil di dalam masalah Sejarah Pencaplokan Papua.

 -----------------------------------PH--------------------------------

8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas

Kodam XVII Cenderawasih Benarkan 8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas 

Pihak Kodam XVII Cenderawasih mengakui korban tewas sebanyak delapan anggota TNI dan dua warga sipil, akibat baku tembak antara TNI dan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Kamis (21/02/2013) pagi.
"Total korban tewas TNI 8 orang, dan 2 orang masyarakat sipil," kata Kapendam XVII Cenderawasih, Letkol Jansen Simanjuntak, seperti dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (21/2/2013) siang.

Menurutnya, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak.

Menyinggung rencana penambahan pasukan, Jansen mengaku belum ada penambahan pasukan sementara ini. Apalagi saat ini masih tergolong situasi aman sehingga TNI belum bisa melakukan sweeping ataupun aksi lainnya karena bukan darurat militer, sehingga masih kewenangan pihak kepolisian. [ksr]


TNI Belum Bisa Pastikan Kelompok Penyerang di Puncak Jaya 

  Delapan anggota TNI dan dua warga sipil tewas dalam baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Kodam XVII Cenderawasih belum bisa memastikan kelompok yang bertanggung jawab atas rangkaian penyerangan mematikan tersebut.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Letkol Jansen Simanjuntak di Jayapura, Kamis (21/2/2013), mengatakan pihaknya masih belum bisa memastikan kelompok bersenjata yang bertanggung jawab karena belum dilakukan olah tempat kejadian perkara dan masih fokus proses evakuasi korban menuju kota Jayapura.

“Kalau di Tingginambut selama ini kita tahu ada kelompok pimpinan Goliath Tabuni, dan untuk wilayah Sinak biasanya ada kelompok Yambi di bawah pimpinan militer Murib yang sering beroperasi. Hanya saja belum bisa kami pastikan. Pengejaran terus dilakukan,” terang Jansen.

Jansen mengatakan, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak. [ksr]
------------------
sumber :  www.city.seruu.com

 


Satu Anggota TNI Tewas Tertembak


Lagi, Kelompok OPM Tembaki Pos TNI di Tingginambut Papua Satu anggota TNI dikabarkan tewas. Tembak-menembak masih berlangsung.
182713_polisi-dan-tni-merazia-warga-di-papua_663_382

VIVAnews - Kelompok  bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali beraksi di Distrik Tingginambut Puncak Jaya Papua, Kamis 21 Febuari sekitar pukul 09.30 WIT.

Mereka menembaki Pos Tentara Nasional Indonesia. Dua anggota TNI tertembak, satu dikabarkan tewas.

Berdasarkan data yang dihimpun VIVAnews, kelompok OPM berjumlah lebih dari 5 orang itu menyerang secara membabi buta. Mereka menembak dari jarak sekitar 300 meter ke arah Pos TNI.

Lettu Reza yang saat itu berada di pos tertembak di bagian lengan. Setelah itu Pratu Wahyu Wibowo tertembak di bagian dada dan dikabarkan tewas di tempat.

Mendapat serangan secara mengejutkan, anggota TNI lainnya mencoba membalas, dan aksi baku tembak pun tak terelakan. Bahkan hingga berita ini diturunkan, aksi tembak-menembak masih berlangsung.

Anggota Pos Polisi yang berjarak hanya 15 meter dari Pos TNI, kemudian ikut membantu menahan serangan dari OPM.

Selain pos Tingginambut, kelompok OPM juga menyerang pos TNI di Kalome juga Puncak Jaya. Namun tidak ada korban dalam peristiwa itu. Kelompok penyerangan diduga adalah sayap militer OPM pimpinan Murib.

Juru Bicara Polda Papua Kombes I Gede Sumerta Jaya saat dikonfirmasi belum bersedia memberikan keterangan. Begitu juga dengan Juru Bicara Kodam 17 Cenderawasih saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, tidak memberikan balasan. (eh)
sumber :   Viva news