Tampilkan postingan dengan label Kapolda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapolda. Tampilkan semua postingan

Akan Bentengi Papua Barat dari Kejahatan Perairan

 Komitmen Kapolda Papua Barat Pertama, Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw

PROVINSI  Papua Barat  kini  memiliki kesatuan Polri sendiri yaitu Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat yang dipimpin oleh Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw. Kehadiran Polda baru ini tentu masih banyak kekurangannya, baik dari sisi sarana prasarana maupun personel. Lalu Bagaimanakah komitmen Waterpauw dalam memimpin Polda Papua Barat itu? 

Laporan : Fathul Qorib Jayapura

Hadirnya Polda Papua Barat di Provinsi Papua Barat itu tentu menjadi harapan baru bagi masyarakat Papua Barat, khususnya dalam upaya peningkatan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif. 
Namun yang menjadi catatan adalah bahwa hadirnya Polda Papua Barat ini masih dibarengi dengan berbagai kekurangan, misalnya belum punya Markas Komando (Mako) Polda tersendiri. Di mana untuk persiapan mempunyai Ma­ko tersendiri, Polda Papua Barat untuk sementara akan pinjam gedung dari pemerintah daerah di Manokwari. Belum lagi masalah kekurangan personel, baik dari anggota Polisi maupun staf kantor, yang kekurangan­nya sangat signifikan dibandingkan dengan Polda yang telah mapan.

Meski demikian, Kapolda Papua Barat Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw menegaskan bahwa prinsip dirinya sebagai pimpinan Polda Papua Barat adalah kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. 
Menurut pria kelahiran Kampung Karas Fakfak, 25 Oktober 1963 itu, markas komando (Mako) bisa diusahakan sambil jalan, yang penting tempat tinggal bagi pejabat utama sudah ada. Bahkan rencananya, untuk pekerjaan sehari-hari bisa meminjam ruang di Polres-Polres yang ada di sana.

Bagaimana dengan kekura­ngan personel? Kabarnya, ku­rang lebih 130 Bintara lulusan teranyar juga akan “disumbangkan” Polda Papua ke Polda Papua Barat. Selain Bintara, pejabat utama juga nantinya akan dilengkapi pelan-pelan, karena untuk saat ini baru ada empat sampai enam pejabat utama yang akan menjadi pelengkap. Namun Paulus masih belum menyebut nama-nama pejabat itu, karena telegram dari Kapolri belum ada.

 “Kita prinsipnya adalah tempat tinggal aja dulu, soal markas komando itu sambil jalan. Jadi pendekatan kita adalah pendekatan kerja, artinya sosok Polisi harus hadir di tengah masyarakat. Jadi kantor nanti bisa berbagi dengan Kapolres, dalam rangka menjalankan pembinaan dan penegakan hukum kita bisa pinjam Polres,” ungkap Waterpauw usai serah terima jabatan Wakapolda Papua, di Mapolda Papua, Rabu (14/1).

 Mengenai kondisi keamanan di wilayah Polda Papua Barat sendiri, suami dari Roma Pasaribu ini mengaku yang lebih berat adalah banyaknya persoalan di wilayah pesisir dan perairan. Apalagi garis pantai yang dimiliki Papua Barat termasuk panjang, dari Kaimana hingga Fakfak, masuk ke Sorong Raya dan Manokwari itu sendiri.
Di wilayah perairan inilah seringkali terjadinya kegiatan illegal seperti illegal fishing, illegal mining, illegal logging, termasuk penyelundupan BBM illegal, sebagaimana adanya informasi yang beredar di sekitar wilayah Polres Raja Ampat. Karena  itu, guna membackup Polres-Polres yang memiliki wilayah perairan untuk menghindari persoalan illegal ini, harus dibackup dari pusat.

 Disinggung mengenai pencegahan masuknya amunisi ke Papua melalui jalur laut, Kapolda juga menegaskan akan mempersempit ruang gerak dari para kelompok bersenjata ini. Tim Khusus juga akan segera dibentuk yang khusus untuk menangani persoalan amunisi dan pengiriman senjata ilegal.  Putra terbaik Papua yang pernah menjadi inspektur ucapara HUT RI di Istana Medeka ini mengakui bahwa selama ini kasus panyelundupan amunisi dan senjata illegal itu hanya ditanga­ni oleh Polres yang banyak keterbatasan,karena itu, hadirnya Polda Papua Barat diharapkan menjadi kekuatan tersendiri. “Wilayah Papua Barat kan luas dan terbuka, jadi kita akan memprioritaskan bagaimana membarrier kehadiran mereka (peredaran senjata,red) lewat laut, sebab kalau lewat jalan lain saya pikir cukup terbatas,” tegas pria yang pernah menjabat Kapolres Mimika dan Kapolresta Jayapura ini.

Dengan komitmen yang tinggi dalam pemberantasan kejahatan di perairan, itu berarti Polisi Air juga akan segera dibentuk di Polda Papua Barat. Sedangkan Polres Raja Ampat, kata Kapolda, akan diusulkan menjadi Polres Khusus Kepulauan sehingga membutuhkan perhatian khusus, baik dari sarana maupun prasarananya. Karena di sana, kebutuhan melindungi biota bawah laut juga termasuk penting sebagai pusat pariwisata internasional. “Saya dengar juga ada upaya memasukkan bbm lewat pulau-pulau di sana, dari mana-mana itu kemudian mereka buang di laut, lalu mereka bawa melalui jalur-jalur tradisional. Itu akan kita tangani dengan serius,” pungkasnya sosok Polri yang sangat low profile ini. (**/fud)
 
Sumber : Radar Sorong

Usir Pendulang Rakyat, Polisi Papua Dirikan Pos Pengamanan


KBR, Jayapura -  Kepolisian Daerah Papua membangun 51 pos pengamanan di sepanjang Kali Kabur atau dari daerah Camp David sampai Kampung Utikini. Daerah yang berada di sekitar areal PT Freeport Indonesia itu adalah bekas lokasi 1000-an pendulang rakyat yang biasa beroperasi.
Kapolda Papua, Yotje Mende. Foto: Katharina Lita
Menurut Kapolda Papua, Yotje Mende, pos pengamanan itu dibangun untuk mengantisipasi masuknya kembali pendulang yang sebelumnya telah dipindahkan oleh polisi. Pemindahan pendulang ini dikarenakan ada dugaan mereka memberikan logistik kepada kelompok bersenjata yang dipimpin Ayub Waker.

“Ditempat kita bikin pos, pos gabungan TNI/Polri disitu yang nanti kita akan tempatkan di sana satuan tugas kita, sebagai tempat konsolidasi dan menjaga jangan sampai ada pendulang itu masuk lagi. Terus yang kedua mereka akan berani masuk, berarti sama saja dengan mereka akan berhadapan dengan hukum. Ada 51 titik pos dari Camp David sampai dengan Utikini,” jelas Yotje Mende kepada Portalkbr, Rabu (14/1).  

Setelah terbunuhnya dua anggota Brimob di Timika, Polda Papua memindahkan dan memulangkan 1000-an pendulang rakyat yang dianggap ilegal di Kali Kabur. Pemulangan 1000-an orang ini, menurut polisi untuk kepentingan keamanan dan juga faktor keselamatan pendulang. Apalagi, kelompok pendulang liar itu mengaku selalu diperas oleh kelompok Ayub Waker untuk dimintai uang dan makanan. 

Polisi mengaku 1000-an pendulang itu tidak hanya berasal dari Mimika, tetapi juga dari kabupaten lain, diantaranya Tolikara, Lanny Jaya, Wamena dan sejumlah daerah lain. Untuk pemindahan dan pemulang para pendulang ini, polisi telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat dari asal daerah para pendulang untuk dibina dan diberikan pekerjaan lainnya. 

Editor: Anto Sidharta
Sumber : PortalKBR

Kapolda Papua Ancam akan Putus Pasokan Logistik Kelompok Ayub Waker

JAYAPURA, – Kepolisian Daerah Papua telah menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus penyerangan mobil Patroli Quick Response Force (QRF) SRM PT Freeport Indonesia yang menewaskan dua anggota Brimob dan seorang anggota security di Kampung Utikini, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Yotje Mende, mengatakan dari hasil pemeriksaan terhadap MW dan JW (awalnya diduga berinisial GM), keduanya diindikasi bagian dari Kelompok Ayub Waker.

“MW yang ditangkap pertama kali saat penyisiran. Di sangkur yang ia pegang ada darah. Kemungkinan ia sebagai pelaku penusukan. Yang kedua JW yang tertembak di pantat, kami sinyalir ikut dalam penyerangan saat itu, karena ikut bersama Ayub Waker dalam kontak tembak,” ungkap Yotje Mende usai melakukan rapat evaluasi operasi penegakan hukum di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Senin (12/1/2014).
Yotje menilai Ayub Waker bersama pengikutnya keras kepala karena tidak mengindahkan ultimatum untuk menyerahkan diri dan mengembalikan dua senjata laras panjang Steyr Aug yang dirampas dari 2 anggota Brimob. Karenanya Yotje menegaskan akan tetap melanjutkan operasi penegakan hukum hingga pelaku tertangkap dan 2 pucuk senjata yang dirampas dikembalikan.
“Bahkan di website mereka sudah mengibarkan bendera perang. Saya dengan bapak panglima siap menghadapi mereka, kami tidak akan gentar,” ucap Yotje.
Memutus logistik
Untuk memaksa Ayub Waker dan pengikutnya menyerah, Yotje berencana memutus pasokan logistik makanan bagi kelompok tersebut. Menurut Yotje, Ayub dan pengikutnya bisa melakukan gerilya karena mendapat pasokan uang dan makanan dari para pendulang di Kali Kabur.
“Saya sudah ultimatum kepada para pendulang, hentikan memberikan uang dan memberikan makanan kepada kelompok tersebut. Sekarang mereka mau kerja sama dengan kita dari NKRI atau dengan kelompok separatis,” ungkap Yotje.
Yotje mengancam jika para pendulang masih terus memasok makanan dan uang untuk Ayub Waker dan pengikutnya, maka ia akan melakukan operasi pembersihan di Kali Kabur. “Saya peringatkan, kalau tetap memberi pasokan makanan maka saya akan menggelar operasi sepanjang bantaran Kali Kabur, tidak hanya di Kampung Utikini, Tembagapura,” ujar Yotje.
Seperti diberitakan sebelumnya, aparat gabungan dari Kepolisian dibantu TNI sejak 2 Januari lalu menggelar operasi penegakan hukum mengejar Ayub Waker dan pengikutnya yang melakukan penyerangan mobil patroli QRF PT Freeport Indonesia yang menewaskan dua anggota Brimob Polda Sumatera Selatan BKO Satgas Amole dan seorang anggota security PT Freeport Indonesia, Kamis (1/1/2015) lalu.
Sumber :  KOMPAS.com

Ajak Referendum, 116 Warga Ditangkap di Timika

KBR, Jayapura -  Kepolisian Papua tangkap 116 orang yang diduga sebagai kelompok West Papua Interns Asosiations. Dari 116 orang, 48 diantaranya adalah perempuan dan tiga anak. 100-an orang ini ditangkap di sekitar Kampung Utikini atau sekitar Kali Kabur, daerah sekitar PT Freeport Indonesia.

Kapolda Papua, Yotje Mende mengatakan, dari penangkapan 100-an orang didapat barang bukti dua spanduk berukuran besar dengan isi spanduk yang mengajak anggota tersebut untuk referendum ulang Pepera 1969 dan mengajak untuk referendum dan sejumlah kartu anggota. Hingga saat ini, 100-an orang itu masih diperiksa secara intensif di Polres Mimika.

“Yang kita amankan, yang kita curigai masuk di dalam kelompok sipil politik yang mereka bermain di bawah tanah, yang sekarang sedang kita identifikasi di Polres. Kita ambil fotonya, kita ambil sidik jarinya. Mereka mempunyai id card, membawa kartu yang menurut saya itu adalah kartu illegal, tidak ada west papua, tidak ada. Akan kita pangkas,” jelas Yotje Mende dalam keterangan pers yang digelar di Ruang Rupatama Polda Papua, Rabu (7/1).

Sejumlah warga yang ditangkap berasal dari beberapa kabupaten di Pegunungan tengah Papua, diantaranya Jayawijaya, Puncak dan Lanny Jaya.

Dalam penangkapan ini, puluhan honai tempat lokasi kelompok ini berada juga dibakar oleh aparat.  Polisi mengklaim dalam aksi penyisiran kelompok tersebut melibatkan lebih dari 1.000 personil gabungan TNI/Polri. 

Editor: Anto Sidharta
Sumber : Portal

Kapolda Papua: Serahkan Diri atau Saya Kejar sampai Neraka

JAYAPURA, Sebanyak 114 orang yang diduga pengikut kelompok Ayub Waker diamankan setelah tim gabungan kepolisian berhasil menguasai markas kelompok tersebut di wilayah perbukitan sekitar 2 kilometer dari Kampung Utikini, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Selasa (6/1/2015).
Kapolda Papua, Brigjen Pol Yotje Mende

Selain mengamankan 114 orang yang memiliki kartu West Papua, kepolisian juga menyita ratusan senjata tajam, busur dan anak panah, serta parang.
Sebelumnya, tim gabungan kepolisian dari Brimob Detasemen B Timika dan Polres Mimika yang dipimpin Kaden Brimob Detasemen B Kompol IGA Nugraha sempat terlibat kontak tembak dengan kelompok Ayub Waker. Walau berhasil menguasai 3 tenda yang menjadi markas kelompok bersenjata ini, Ayub Waker berhasil meloloskan diri.
Aparat kepolisian memburu Ayub Waker yang menjadi dalang penyerangan mobil patroli QRF PT Freeport Indonesia, yang menewaskan 2 anggota Brimob anggota Satgas Amole dan seorang anggota sekuriti Freeport, Kamis (1/1/2015) lalu.
Selain itu, Ayub Waker dan pengikutnya juga membawa lari dua senjata laras panjang Steyr AUG bersama amunisinya.
Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Yotje Mende, seusai meninjau ke Kampung Utikini, Tembagapura, mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengejaran hingga pelaku tertangkap.
"Mereka boleh kucing-kucingan, silakan, tetapi kami akan kejar sampai ketemu. Saya ultimatum untuk menyerahkan diri. Kalau tidak, ke mana pun mereka pergi, bahkan ke neraka sekalipun, akan kami kejar," tekan Mende kepada wartawan di Timika, Selasa malam.
Guna pengejaran Ayub Waker beserta pengikutnya, mantan Kapolda Kepulauan Riau tersebut mengatakan sudah meminta bantuan pihak TNI untuk mem-back up kepolisian. Dalam kasus ini, satu orang, M, sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mende menjelaskan, M ditangkap saat penyisiran, beberapa saat setelah kejadian.
"Dari penyelidikan lebih lanjut diketahui, KTP milik M sempat disita salah satu korban penyerangan. Saat ini, (KTP) ada di dompet almarhum Bripda Rian yang terbawa ke Palembang. M kemungkinan pelaku dan juga mata-mata," ungkap Mende.
Sumber :KOMPAS.com